Lingkungan

Bayi Pesut Mahakam Kembali Ditemukan Mati di Kukar, Sudah Keenam Kalinya dalam Setahun

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 921 Kali
Bayi Pesut Mahakam Kembali Ditemukan Mati di Kukar, Sudah Keenam Kalinya dalam Setahun

Jasad bayi pesut di Sungai Kedang Kepala, Muara Kaman, Kukar (foto: BKSDA Kaltim for kaltimkece.id)

Seekor pesut muda ditemukan mati di perairan Sungai Kedang Kepala. Binatang purba ini kian di ambang kepunahan.

Ditulis Oleh: Aldi Budiaris
23 September 2021

kaltimkece.id Laporan seekor pesut (Orcaella brevirostris) yang ditemukan mati itu tiba di telepon seluler Danielle Kreb pada Rabu pagi, 22 September 2021. Pendiri Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) tersebut segera menelusuri lokasi penemuan oleh warga. Hasilnya, mamalia tersebut diketahui mati di perairan Sungai Kedang Kepala, Desa Bukit Jering, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara.

Dari pemeriksaan sementara, bayi pesut ini berkelamin jantan. Usianya sekitar satu sampai lima bulan. Kreb menyatakan, kejadian ini adalah yang kedua dalam dua bulan terakhir. Pada 27 Agustus 2021, jasad pesut Mahakam berusia satu bulan ditemukan di Desa Tanjung Batu, Kecamatan Tenggarong Seberang.

“Sementara dalam setahun, ini peristiwa yang keenam. Sudah enam pesut ditemukan mati,” terangnya kepada kaltimkece.id, Rabu, 23 September 2021.

Kreb mengatakan, bayi pesut bisa saja mati karena terpisah dari induknya. Akan tetapi, Kreb melanjutkan, penyebab kematian baru bisa dipastikan dari hasil nekropsi atau autopsi hewan serta uji laboratorium.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, Ivan Yusfi Noor, menjelaskan, segera mengirim tim ke lokasi penemuan pesut. Tim terdiri dari staf dan dokter hewan untuk keperluan nekropsi. Dari pemeriksaan fisik awal, terang Ivan, ditemukan luka lebam di bagian wajah pesut. Ada pula luka terkelupas di sekujur tubuh. Penyebab kematian bayi mamalia ini dapat diketahui dari sampel kulit, daging, dan organ dalam yang perlu diperiksa di laboratorium.

Populasi Terus Menurun

Populasi pesut di Sungai Mahakam makin terancam. Menurut survei RASI pada 2019, jumlah pesut kurang lebih 80 ekor dan terkonsentrasi di daerah hulu Mahakam. Setiap tahun, rata-rata lima pesut mati dengan hanya dua sampai empat ekor per tahun yang lahir. Pesut Mahakam telah masuk kategori spesies yang terancam punah.

Lebih dari 70 persen kematian pesut disebabkan tersangkut jaring nelayan. Makanan utama hewan ini adalah ikan. Mereka cenderung memakan ikan yang tersangkut di jaring tancap nelayan. Akibatnya, pesut ikut terperangkap jaring sehingga tak mampu naik ke permukaan air untuk bernapas.

Menurut BKSDA Kaltim, 30 persen kematian pesut juga disebabkan tertabrak kapal bermotor. Sejak 1999 hingga 2021, angka kematian binatang endemik Kaltim ini rata-rata lima ekor per tahun. Tingkat kematian tertinggi pada 2019 yaitu 10 ekor sedangkan tahun ini, sampai September saja, sudah enam ekor yang mati.

“Sebelumnya, angka kelahiran dan kematian pesut hampir seimbang yaitu lima ekor per tahun. Dua tahun belakangan, angka kematian cenderung meningkat," papar Ivan.

Baca juga:
 

BKSDA, RASI, dan Pemkab Kukar telah berkomitmen melestarikan pesut. Menurut rencana, disiapkan wilayah konservasi pesut Mahakam serta daerah pendukung pakan di Kota Bangun, Muara Kaman, dan danau-danau di sekitar wilayah tersebut. Konsekuensinya, wilayah ini harus bebas dari aktivitas nelayan dan pelarangan penggunaan jaring.

“Kebijakan ini memang menyulitkan nelayan makanya mekanismenya perlu diatur," jelas Ivan.

Pesut, Binatang Purba yang Istimewa

Sebagai mamalia yang hidup di dalam air, pesut adalah keluarga dekat lumba-lumba dan paus. Ketiganya istimewa karena hidup di habitat yang tak semestinya bagi kelompok mamalia. Mereka menjadi “ikan” yang bernapas dengan paru-paru, hamil, melahirkan, dan menyusui di dalam air. Mamalia ini memang bukan ikan. Pesut tidak berenang melainkan meluncur di dalam air dengan gerakan tubuh naik turun. Berbeda dengan cara ikan berenang yakni mengibaskan tubuh ke kiri dan kanan.

Pesut dan lumba-lumba, sebagaimana nenek mereka yakni paus, adalah binatang purba. Para ahli biologi menduga bahwa kelompok mamalia yang hidup di air adalah hasil evolusi. Kesimpulan itu semakin kuat setelah penemuan fosil pada 2000 dan 2004 di Pakistan. Belulang itu adalah hewan darat berbobot sangat besar yang diperkirakan sebagai cikal-bakal paus (Great Transformation in Vertebrate Evolution, 2015).

Adapun paus, adalah hasil evolusi pada 50 juta tahun yang lalu. Sebelumnya, paus merupakan binatang darat yang hidup bersama-sama kaum dinosaurus. Perpindahan mereka ke laut diduga untuk menghindari kompetisi dengan para dinosaurus. Makanan di laut berlimpah dan pesaing di sana sedikit. Selama 20 juta tahun berjalan, evolusi mencapai bentuk sempurnanya pada spesies paus sperma. Delapan juta tahun kemudian, evolusi paus sperma melahirkan lumba-lumba dan pesut (Whales, 2003).

Setelah 12 juta tahun menghuni bumi, pesut pertama kali dideskripsikan profesor biologi berkebangsaan Inggris bernama Sir Richard Owen. Dia meneliti pesut yang dikirim dari India. Salah satu keunikan hewan itu adalah selalu tersenyum. Hal itu, menurut Owen, karena mulut pesut dikelilingi bibir yang melengkung ke arah mata (Orcaella Brevirostris, 1866).

Pesut dewasa jantan dapat memiliki panjang 2 sampai 2,5 meter dengan berat 90 sampai 100 kilogram. Mereka adalah perenang santai yang bergerak lamban. Kemampuan menyelam pesut juga lumayan karena mampu menahan napas antara 70 sampai 150 detik. Mereka menghirup udara dengan mengeluarkan kepala lebih dulu diikuti oleh ekor yang menepuk-nepuk permukaan air. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar