Lingkungan

Pesut Mahakam Berusia Satu Bulan Mati di Perairan Kukar dan Habitatnya yang Kian Mengkhawatirkan

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 2667 Kali
Pesut Mahakam Berusia Satu Bulan Mati di Perairan Kukar dan Habitatnya yang Kian Mengkhawatirkan

Pesut mahakam yang ditemukan mati di Tanjung Batu, Tenggarong Seberang, Jumat, 27 Agustus 2021 (foto: Yayasan RASI)

Seekor pesut kembali ditemukan mati di Sungai Mahakam. Menderita sejumlah luka.

Ditulis Oleh: Aldi Budiaris
28 Agustus 2021

kaltimkece.id Seekor pesut (Orcaella brevirostris) ditemukan mati di perairan Sungai Mahakam di Kutai Kartanegara. Masih berusia kurang dari sebulan, pesut muda tersebut menderita sejumlah luka. Belum diketahui penyebab kematiannya, akan tetapi, ini adalah kejadian kesekian dalam satu dekade terakhir.

Jumat, siang, 27 Agustus 2021, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim dan Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) menerima laporan penemuan seekor pesut yang mati. Mamalia air tawar itu ditemukan warga di dekat Desa Tanjung Batu, Tenggarong Seberang.

BKSDA Kaltim dan RASI yang tiba di lokasi segera memeriksa tubuh pesut yang tak bernyawa itu. Tim yang terdiri dari satu dokter hewan dan tiga staf mendapati sejumlah temuan. Pertama, seperti dijelaskan CEO sekaligus founder Yayasan RASI, Danielle Kreb, pesut ini berusia kurang dari satu bulan. Kira-kira dua pekan umurnya. Usia pesut diketahui dari tampilan fisik yang masih sangat kecil, belum memiliki gigi, dan masih ada jaringan lemak di tubuh.

"Sebagai informasi, masa kehamilan pesut adalah 14 bulan," jelas Danielle.

Dokter hewan dari BKSDA Kaltim, drh Devia, menambahkan, tim telah mengadakan pemeriksaan nekropsi (autopsi hewan). Hasil pemeriksaan adalah didapati luka lebam di bagian ekor belakang pesut. Ada pula luka seperti bekas gigitan di wajah sebelah kiri hewan. Sementara dari pemeriksaan bagian lambung, tidak ditemukan jaring nelayan yang kerap menjadi penyebab kematian pesut selama ini.

"Kami masih menganalisis penyebab kematiannya," terang drh Devia. Tim telah mengambil beberapa sampel untuk pemeriksaan DNA di unit BKSDA Kaltim.

Habitat yang Mengkhawatirkan

Danielle Kreb dari Yayasan Rasi mengatakan, populasi pesut mahakam saat ini kurang lebih 80 ekor berdasarkan data yayasan. Kreb mengungkapkan sejumlah kemungkinan yang selama ini menjadi penyebab kematian satwa tersebut. "Umumnya karena tersangkut jaring nelayan maupun tertabrak kapal," jelasnya.

“Pesut banyak ditemukan mendiami perairan Mahakam di Kecamatan Muara Kaman dan Muara Muntai, Kukar, hingga Kutai Barat,” jelasnya.

Habitat pesut memang kian sempit dalam beberapa dekade ini. Sampai 2007, ruang hidup pesut di Sungai Mahakam telah berkurang 120 kilometer. Pesut hanya ditemukan di 180 kilometer dari muara sungai, yakni di Kukar, hingga 600 kilometer ke arah hulu (Status and Conservation of Irrawaddy Dolphins Orcaella Brevirostris in the Mahakam River of Indonesia, 2007).

Menyusutnya habitat seturut dengan melorotnya populasi. Pada 1980-an, jumlah mereka diperkirakan masih 200 hingga 300 ekor, dan kini tersisa 80 ekor. Pesut dalam kelompok besar terkonsentrasi di Danau Melintang dan Danau Jempang (Dolphins and Porpoises: A Worldwide Guide, 1993).

Dalam penelitian Danielle Kreb sebagaimana dilansir Antara, rata-rata tiga sampai empat ekor pesut mati setiap tahun di Sungai Mahakam. Angka kematian itu hanya sedikit lebih rendah dari angka kelahiran yakni lima ekor per tahun. Apabila angka kematian rata-rata mencapai 6 ekor per tahun, pesut akan punah dengan tingkat kepastian 60 persen.

Dari perbandingan itu, International Union for Conservation of Nature memasukkan pesut ke daftar merah spesies yang terancam punah. Status pesut dikategorikan kritis atau berstatus rawan punah. Adapun angka kematian pesut tertinggi adalah pada 2012. Sebanyak enam ekor mati, lima di antaranya disebabkan jaring nelayan, seperti dilaporkan dalam jurnal berjudul Kelimpahan dan Sebaran Populasi Pesut Mahakam di Sungai Mahakam Kalimantan Timur (2012).

Kematian pesut dewasa dapat membawa dampak buruk bagi populasinya. Sebagai gambaran, seekor pesut harus mengandung selama 14 bulan untuk melahirkan anak. Pesut dewasa di Sungai Mahakam diperkirakan tersisa 40-an ekor. Jika asumsi jumlah jantan dan betina merata, hanya 25 persen pesut betina dewasa yang melahirkan setiap tahun. Kematian seekor pesut betina dewasa dapat menurunkan angka kelahiran dari 5 ekor menjadi 4,75 ekor per tahun. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar