Lingkungan

Keajaiban Pulau Kakaban: Danau Purba, Ubur-Ubur, hingga Turis Beraneka Busana

person access_time 3 months ago remove_red_eyeDikunjungi 1019 Kali
Keajaiban Pulau Kakaban: Danau Purba, Ubur-Ubur, hingga Turis Beraneka Busana

Foto: Fel GM (kaltimkece.id)

Karang menjadi daratan
Membesut irama kehidupan
Mahakarya kekuatan alam

Ditulis Oleh: Fel GM
29 September 2018

kaltimkece.id Iza Ulanowska harus betul-betul menyusun langkah kaki setibanya di dermaga Pulau Kakaban. Perempuan dari Kota Piekary Slaskie di sebelah selatan Polandia ini terpaksa menapaki tajamnya tumpukan karang sejauh 20 meter. Sudah tiga pekan, jembatan dan tangga sebagai satu-satunya akses darat di pulau itu rusak. Roboh disapu angin puting beliung. 

Senin, 24 September 2018, Iza akhirnya tiba di tepi danau di tengah-tengah Pulau Kakaban, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Penekun dunia fotografi yang mahir menyelam permukaan (snorkeling) ini berenang selama hampir satu jam. Setelah melihat seisi danau air asin yang penuh ubur-ubur, dia mengeringkan baju selam hitamnya yang ketat. 

“It’s such beautiful country,” tutur Iza dengan aksen Eropa Timur yang kental ketika membalas sapaan kaltimkece.id. Perempuan berambut cokelat gelap itu tak perlu berpikir lama-lama untuk memuji keindahan danau di Pulau Kakaban yang baru saja dia selami. 

Danau pulau cincin yang dikunjungi Iza adalah yang terbesar di dunia. Luas danau di Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, itu, 390 hektare dengan kedalaman 11 meter. Permukaan airnya memantulkan hijau pepohonan dari keluarga bakau yang tumbuh di sekujur pulau. Airnya nyaris sebening kaca sehingga hamparan alga hijau setebal 1,5 meter di dasar telaga nampak begitu jelas. Di atas alga yang menyelimuti karang itu, jutaan ubur-ubur totol berwarna kuning kecokelatan berenang ke sana ke mari. Makhluk itu tidak bersengat dan amat lunak, selunak agar-agar ketika disentuh. 

Keindahan Pulau Kakaban berhasil membawa ribuan wisatawan mancanegara ke Berau, termasuk Iza. Pada 2016, misalnya, dinas kebudayaan dan pariwisata setempat mencatat 2.363 turis asing dan 79.264 wisatawan nusantara telah berkunjung. 

Kepulauan Derawan menjadi objek wisata paling diminati. Gugusan pulau karang itu terdiri dari Pulau Derawan, Pulau Maratua, Pulau Sangalaki, dan Pulau Kakaban. Derawan dan Maratua dikenal dengan keindahan bawah lautnya. Sangalaki dengan pasir putihnya merupakan tempat favorit penyu bertelur. Sementara Kakaban dengan danaunya, punya berbagai keajaiban. 

Pelukan Kakaban

Tanah di Kakaban, termasuk pulau-pulau di kawasan Derawan, berbeda dengan pulau atau daratan pada umumnya. Jika biasanya terdiri dari pasir, lempung, dan bebatuan, daratan di Kepulauan Derawan justru terbentuk dari sisa-sisa makhluk hidup. Ia bermula dari hewan karang yang telah mengendap di dasar lautan. 

Pulau Kakaban diperkirakan mulai terangkat 12 juta tahun silam. Kemunculannya disebabkan pergeseran Semenanjung Mangkalihat (Berau) dan Semenanjung Simpurna (Sabah, Malaysia). Pergerakan kulit bumi menyebabkan endapan karang naik 10 sampai 20 sentimeter setiap tahun. Hasil penelitian Universitas Oxford menyimpulkan, perlu 2 juta tahun untuk benar-benar mengangkat Kakaban dari dasar laut (The Ecology of the Indonesian Seas, 1994, hlm 772). 

Seluruh anggota dari Kepulauan Derawan diduga melewati proses serupa. Namun, Kakaban lebih istimewa. Endapan karang Kakaban yang terus terangkat berbentuk cincin sehingga dinamakan pulau atoll. Jika dilihat dari angkasa, bentuk Kakaban mirip angka “9”. Di tengah-tengah atoll atau tepat di kepala angka “9”, terdapat ceruk besar berisi air laut yang disebut laguna. Air laut di cekungan itu terperangkap sehingga membentuk danau di tengah pulau. Pelan-pelan, air danau berubah menjadi payau berkat campur tangan air hujan. 

“Dari penampakan itulah, danau ini mendapatkan namanya; ‘Kakaban’. Dalam bahasa setempat, ‘kakaban’ berarti ‘pelukan’,” tulis Anugerah Nontji dalam jurnal Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bertajuk Danau Kakaban: Surganya Ubur-Ubur Tanpa Penyengat (2017, hlm 3). Nontji menyatakan, Kakaban dapat diartikan sebagai pulau yang sedang memeluk danau. 

Sebenarnya ada teori lain seputar nama Kakaban. Para peneliti dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman, Samarinda, menduga bahwa nama-nama pulau di Kepulauan Derawan berasal dari bahasa Bajau. Suku ini mendiami sebagian kawasan tersebut. Dalam bahasa Bajau, Derawan dapat diartikan perawan, Maratua adalah mertua, Sangalaki ialah laki-laki, dan Kakaban berarti kakak (Asal-Usul Nama Pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, 2018, hlm 134-136).

Ubur-Ubur Tak Bersengat

Apapun maknanya, Kakaban tetaplah pulau dengan berbagai keajaiban. Danau setengah asin di pulau karang berbentuk cincin adalah mahakarya alam yang istimewa. Perubahan air laut yang terperangkap di danau membuat flora dan fauna tumbuh “menyimpang” dari saudara kandung mereka di laut. Para ahli menduga, keunikan biota di Danau Kakaban disebabkan hasil evolusi selama jutaan tahun.

Ubur-ubur tak bersengat adalah contoh yang paling kentara. Berbeda dengan di laut bebas, Danau Kakaban tidak dihuni banyak predator. Ubur-ubur tidak perlu melindungi diri dari pemangsa. Mereka akhirnya mereduksi kelenjar sengat atau nematosist. Evolusi memangkas kelenjar menjadi sangat kecil sehingga tidak efektif lagi sebagai senjata. 

Ubur-ubur juga memiliki sumber makanan berlimpah di Danau Kakaban. Ketiadaan predator dan melimpahnya makanan menimbulkan ketidakseimbangan rantai makanan. Populasi ubur-ubur pun meledak. Mereka terdiri dari empat spesies. Paling besar adalah ubur-ubur bulan atau Aurelia aurita. Panjangnya bisa mencapai setengah meter. Tubuh ubur-ubur ini putih agak transparan dengan motif daun semanggi di ujung tudungnya (Danau Kakaban: Surganya Ubur-Ubur Tanpa Penyengat, 2017, hlm 5). 

Jenis kedua adalah ubur-ubur totol atau Mastigias papua. Populasi spesies ini paling padat di Danau Kakaban. Jenis yang ketiga adalah yang paling kecil, ubur-ubur kotak atau Tripedalia cystophora. Di lautan bebas, keluarga dari spesies ini terkenal dengan daya sengat paling mematikan. Namun, di Danau Kakaban, sengatnya tak lagi bekerja. Sementara jenis terakhir adalah ubur-ubur terbalik atau Cassiopea ornate. Disebut terbalik karena tudungnya di bawah sehingga seperti kuali. Ubur-ubur ini memakan mikroalga yang bersemayam di tubuh mereka (hlm 6). 

Kawasan Konservasi

Kakaban bersama sejumlah kawasan Kepulauan Derawan adalah wilayah terumbu karang yang masih terjaga. Kawasan terumbu karang seperti ini sangat sedikit, hanya 0,2 persen dari luas lautan di seluruh dunia. Padahal, seperti dilansir The Nature Conservancy Indonesia, 25 persen dari seluruh organisme yang hidup di laut memiliki habitat di terumbu karang. 

“Selain itu, Kepulauan Derawan merupakan tempat hidup hewan laut yang langka seperti penyu, hiu paus, dan ikan napoleon,” terang Budiono, kepala Seksi Pengembangan Budi Daya, Bidang Budi Daya, Dinas Kelautan dan Perikanan Berau. 

Baca juga:
 

Pemerintah pusat, Pemprov Kaltim, dan Pemkab Berau, telah mengambil langkah untuk melindunginya. Seluas 285 ribu hektare wilayah ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Derawan dan Perairan Sekitarnya. Kawasan konservasi dikelola lintas instansi, termasuk The Nature Conservancy Indonesia, organisasi sosial lingkungan berjaringan internasional. 

Turis Beraneka Busana

Kembali ke Kakaban, ubur-ubur tak bersengat memungkinkan manusia bisa berenang bersama makhluk lunak itu. Hanya dua tempat yang serupa Kakaban di dunia. Pertama adalah Republik Palau di Samudra Pasifik. Lokasi kedua baru saja ditemukan di Raja Ampat, Papua Barat. 

Keunikan Kakaban telah mengundang turis berdatangan demi menikmati sensasi berenang bareng ubur-ubur. Pelancong dari berbagai ras, suku, kepercayaan, dan gaya hidup, berkumpul di satu pulau. Mereka juga mengenakan pakaian bermacam-macam. Sebagai contoh, wisatawan perempuan dari Eropa, Amerika, dan Timur Jauh, gemar berjemur di tepi danau dengan bikini yang tipis. Sebagian kecil pelancong Indonesia juga berbikini atau mengenakan jenis pakaian terbuka yang lain. Namun, tentu saja lebih banyak yang memakai kerudung.

Pemandangan pada tengah hari, Senin, 24 September 2018, adalah contohnya. Delapan pelancong lokal duduk di gazebo di ujung dermaga. Semuanya perempuan dan berkerudung. Mereka asyik mengobrol sambil berteduh dari sengat matahari yang sedang terik-teriknya. Hanya 5 meter dari situ, dua turis asing berbikini gelap sedang menantang matahari. Keduanya berjemur seraya menatap birunya langit. Tak ada kerisihan. Keajaiban Pulau Kakaban rupanya jauh lebih mengagumkan ketimbang menggunjingkan perbedaan. (*)

Senarai Kepustakaan
  • Afriyanto, Mursalim, dan Rizal, Syamsul, 2018. Asal-Usul Nama Pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Jurnal, Samarinda: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman.
  • Nontji, Anugerah, 2017. Danau Kakaban: Surganya Ubur-Ubur Tanpa Penyengat, Jurnal, Jakarta: Oseanografi LIPI
  • Tomascik, Tomas, dkk, 1994. The Ecology of the Indonesian Seas, Singapura: Oxford University Press.

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar