Lingkungan

Keindahan di Hidung Kalimantan, Tempatnya Para Bidadari yang Terisolasi dari Dunia Luar

person access_time 1 week ago remove_red_eyeDikunjungi 3665 Kali
Keindahan di Hidung Kalimantan, Tempatnya Para Bidadari yang Terisolasi dari Dunia Luar

Potret Kampung Teluk Sumbang dari Ketinggian. (arditya abdul azis/kaltimkece.id)

Lokasinya di ujung timur provinsi ini. Telah dialiri listrik sepanjang hari. Tapi masih jauh dari jaringan telekomunikasi.

Ditulis Oleh: Arditya Abdul Azis
09 November 2019

kaltimkece.id Teluk Sumbang adalah sebuah kawasan kampung di paling timur Provinsi Kaltim. Satu dari enam desa dan kampung di Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau. Dari peta, letaknya persis di "hidung" Pulau Kalimantan. Selatan Teluk Sumbang berbatasan Kabupaten Kutai Timur.

Kampung ini berdiri sejak 1960. Dahulu dikenal sebagai tempat Suku Dayak Bassap yang masih hidup di hutan belantara. Suku ini kemudian membuka diri pada awal 2000.

Belakangan, kampung ini makin familier karena hendak didirikan pabrik semen. Tapi yang mesti diketahui, kawasan ini masih jauh dari pembangunan. Belum merata dirasakan warga Teluk Sumbang. Akses ke Teluk Sumbang baru berapa tahun terakhir terbuka. Dari kampung Biduk-Biduk, jalan masih dominan pembukaan lahan dan pengerasan. Belum pengaspalan.

Dahulu, sebelum jalan terbuka, satu-satunya akses adalah laut. Dari perahu mereka ke kota menjual hasil bertani ataupun melaut.

Kampung ini berada di bibir pantai pasir putih. Warna lautnya biru kehijauan. Sekitarnya hutan belantara. Di ujung pantai terdapat pegunungan. Sering tertutup awan tebal. Warga menyebutnya Gunung Hantu.

Siapa sangka, kampung indah dan asri itu justru menyimpan sejumlah potensi wisata. Juga kekayaan alamnya. Luasnya sekitar 15.000 hektare. Terdiri dari hutan dan lautan. Sebagian besar warganya nelayan dan petani. Terdapat 201 kepala keluarga (KK) atau sekira 726 jiwa. Tak ada yang akrab dengan media sosial. Bahkan untuk sebatas memberi kabar kepada orang di luar sana. Teluk Sumbang berpuluh tahun ini masih terisolir dari sinyal seluler. Bahkan aliran listrik belum lama ini bisa dirasakan.

Pada 2018, listrik didapat dari upaya warga sendiri. Mengalir ke setiap rumah warga dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal yang didirikan lewat bantuan negara asing.

PLTS di kampung Teluk Sumbang dibangun dari dana hibah lembaga swadaya masyarakat Amerika Serikat. Memenuhi kebutuhan listrik 24 jam warga setempat dalam dua tahun terakhir ini. Kampung Teluk Sumbang terpilih untuk pembangunan PLTS program Bappenas. Saat pembangunan PLTS berikut jaringan ke rumah warga, mendapatkan biaya sambungan listrik gratis 900 Watt.

Pengoperasian PLTS yang terdiri dari 1.500 panel surya berteknologi Prancis, kini dikelola sendiri enam warga Teluk Sumbang sejak 2018, setelah sebelumnya lebih dulu mendapatkan pelatihan.

"Tarif yang berlaku sama dengan tarif pada voucher listrik PLN Rp 1.460 per KWh," kata Supervisor PT Teluk Sumbang Energi Rujeham ditemui kaltimkece.id di lokasi PLTS Teluk Sumbang, Selasa 5 November.

Kapasitas PLTS 400 KWh masih berlebih. Untuk menerangi listrik 130 pelanggan, listrik yang digunakan hanya 30 KWh. "Masih bisa menambah 1.000 pelanggan lagi," ucap Rujeham.

"Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan PLN. Bahkan PLN menyatakan tidak sanggup untuk memasang jaringan listrik 35 kilometer, untuk memenuhi listrik di Desa Biduk-Biduk," tambahnya.

"Dari pengoperasian ini, empat bulan terakhir kami bisa dapatkan Rp 13 juta per bulan. Sebelumnya hanya Rp 7 juta per bulan. Listrik memang benar-benar membantu masyarakat," terangnya lagi.

Ahmad, salah satu operator PLTS Teluk Sumbang, merasa manfaat besar dari kehadiran PLTS. Kini kampungnya terang 24 jam. "Risiko dari PLTS ini kalau turun hujan seharian, listrik bisa drop. Tapi kami siapkan baterai yang bisa bertahan semalaman," ucap Ahmad.

"Selain itu, karena di sini masih banyak pohon, bisa patah menimpa jaringan. Yang kami syukuri, kampung kami sudah bisa menikmati listrik sepanjang hari," tambah Ahmad.

Namun, suplai listrik saja masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok para penduduknya. Warga Teluk Sumbang, hingga kini masih bergelut dengan jaringan telekomunikasi. Sudah puluhan tahun terisolasi dari dunia luar.

"Yang sangat kami perlukan pertama adalah sinyal telekomunikasi. Tidak adanya sinyal, membuat kami seringkali miskomunikasi. Baik dengan pemerintah dan keluarga jauh," kata Kepala Kampung Teluk Sumbang Abdul Karim kepada kaltimkece.id Selasa 5 November 2019.

Sebab itu, Kepala Kampung yang akrab disapa Pak Karim itu menegaskan bahwa telekomunikasi menjadi target prioritas. Keterbatasan akses komunikasi membuat kampung belum dapat mengeksplorasi lebih jauh potensi pariwisata. Karena itu pula pengetahuan wisatawan tentang Teluk Sumbang masih minim.

“Kami memiliki pantai yang indah. Kami juga memiliki tiga air terjun yang indah tidak jauh dari kampung. Kami punya Pulau Kaniungan besar dan kecil tempatnya penyu bertelur. Pantai kami indah dengan pasir putihnya,” kata Karim.

“Tapi, untuk mengekspos itu semua, kami sangat ketergantungan dengan fasilitas internet yang sampai saat ini belum punya,” lanjutnya.

Perjuangan untuk mendapatkan program pembangunan tower telekomunikasi beserta seluruh

perangkatnya, disampaikan Karim, telah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Namun, hingga kini tower yang

diidam-idamkan belum juga didapatkan. Bahkan, untuk menarik simpati pemerintah, kampung

menyiapkan lahan gratis berukuran 20x30 meter untuk berdirinya tower telekomunikasi

"Demi sinyal selular di kampung kami. Mudah-mudahan kami bisa adakan pada 2020. Kami akan perjuangkan terus. Lahan untuk pembangunan tower pun sudah kami siapkan. Jadi, kalau program itu masuk pemerintah tidak perlu lagi mencari lahan. Kami siapkan lahan 1 hektare untuk tower,” tuturnya.

Sementara ini, untuk menggunakan alat telekomunikasi, warga Teluk Sumbang harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 1,5 jam ke Kampung Biduk-Biduk. Jarak tempuh kurang lebih 30 kilometer. Jalan menuju Biduk-Biduk masih berupa tanah dan batuan.

“Ada beberapa lokasi di kampung yang bisa dapat sinyal untuk telepon. Tapi, kalau pas jaringan tidak masuk, ya, harus turun dulu ke Biduk-Biduk hanya untuk menelpon. Perjalanan pun cukup jauh. Itulah

terkadang informasi dari kampung kami sulit didapat secara cepat. Yang susah itu, kalau ada

sesuatu mendesak,” ungkapnya.

Masyarakat Kampung Teluk Sumbang bukan tanpa impian. Potensi wisata begitu besar. Tidak kalah dengan pantai berpasir putih di Kampung Biduk-Biduk. "Perekonomian sangat minim karena masyarakat kami dominan berkebun. Tidak sedikit yang tidak punya pekerjaan. Nelayan hanya sambilan. Dengan adanya wisata, kami bisa meningkatkan giat ekonomi," ungkap Karim.

Dahulu, terang Karim, jalan ke kampung teluk sumbang masih jalan setapak. Pada 2017, setelah jalan dibuka, barulah permukiman mulai ramai. Mulai 2018 listrik akhirnya bisa dinikmati warga, meskipun sekedar untuk penerangan.

"Beruntungnya, kami memiliki sumber air bersih. Jadi kami gunakan air sumber mata air dari perbukitan," tambah Karim.

Teluk Sumbang memang bukan sembarang kampung. Embun pagi kerap membalut kawasannya yang perbukitan. Pantainya memiliki tataran pasir putih. "Di tempat kami, suku Taili, Mandar, Bugis dan Bajau serta Dayak Basap, hidup rukun berdampingan," ungkap Karim.

Beragam tempat wisata alam bahari terdapat di kampung ini. Destinasi wisata yang penuh tantangan dan pemandangan indah. Misalnya air terjun Bidadari. Ditempuh 45 menit dengan berjalan kaki dari lokasi jalan raya Teluk Sumbang. Wisatawan harus menyusuri jalan-jalan setapak dengan mendaki bukit dan jalan curam.

Di atas bukit, pemandangan menyambut bagi pejalan kaki yang ingin ke air terjun bidadari. Pulau Kaniungan Besar berpasir putih, terhampar dari ketinggian bukit.

Masuk lagi ke dalam hutan, menuju air terjun, wisatawan bisa menikmati rimbun pepohonan yang berjarak rapat. Ditambah akar-akar jenis bajakah melilit di batang pohon.

Air dari akar bajakah ini, biasanya digunakan sebagai bekal pengunjung yang masuk hutan. Dari perjalanan menyusuri hutan akan terbalaskan kesejukan dari air terjun bidadari.

Teluk sumbang memiliki tiga air terjun. Semuanya bernama bidadari. Warga meyakini bahwa di tiga air terjun tersebut, adalah tempatnya para bidadari-bidadari.

Air terjun bidadari satu dan dua terletak di bukit Teluk Sumbang. Sedangkan air terjun ketiga berada di bibir pantai. Air terjun ini paling favorit. Setelah puas bermain air di pantai, bisa langsung membilas di air terjun.

Pantai Teluk Sumbang dengan deburan ombak di pasir putih dan pohon rimbun bakal membuat wisatawan lupa waktu. Gunung Hantu di ujung pantai dan batu besar yang terhampar, biasa digunakan sebagai objek mengabadikan momen.

Di seberang pantai terdapat dua pulau, yakni pulau Kaniungan Besar dan Kaniungan Kecil. Pulai ini tak kalah indah dengan Kepulauan Derawan. Selain menjadi tempat penyu bertelur, di bawah air lautnya yang jernih pengunjung akan disuguhkan aneka ikan di terumbu karang yang masih terjaga.

Pantas saja Teluk Sumbang disebut mutiara yang dimiliki Berau. Kampung dengan sejumlah potensi wisata itu, saat ini benar-benar sangat membutuhkan sentuhan pembangunan infrastruktur memadai. Agar para pengunjung wisatawan dapat terus kembali berkunjung.

Warga kampung ini juga dikenal dengan sadar menjaga hutan. Hal itu yang membuat Tim program Forest Carbon Partnership Facility (FCPF) atau penurunan emisi karbon bekerja sama Kementerian LHK, menjadikan Teluk Sumbang sebagai nominasi dari 150 kampung iklim plus di Kalimantan Timur, untuk menjaga lestari hutan sebagai paru-paru dunia.

Baca juga:

"Di Berau ada 38 kampung dari 150 kampung. Program penurunan emisi karbon ini, merupakan bentuk kepedulian Kalimantan Timur, kepedulian Indonesia terhadap hutan sebagai penghasil oksigen," kata Konsultan Development Social Program Penurunan Emisi Karbon Ahmad Wijaya.

Keberhasilan Indonesia, tentu mendapat ganjaran dari Bank Dunia. Bagi 150 kampung yang berhasil menjaga kelestariannya, dapat insentif USD 110 juta. Syaratnya menjalankan kelestarian 6,5 juta hektare hutan di Kaltim. Di antaranya Berau, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat dan Mahakam Ulu. (*)

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar