Lingkungan

Kisah Sedih di Hari Anti Tambang, Melayangnya Nyawa Natasya sebagai Korban Ke-34

person access_time 5 months ago remove_red_eyeDikunjungi 6221 Kali
Kisah Sedih di Hari Anti Tambang, Melayangnya Nyawa Natasya sebagai Korban Ke-34

Foto: Giarti Ibnu Lestari (kaltimkece.id)

Lubang galian bekas tambang kembali merenggut nyawa. Seorang bocah perempuan di Simpang Pasir, Palaran, menjadi anak ke-34 yang tewas di kolam tambang sepanjang delapan tahun terakhir. 

Ditulis Oleh: Fachrizal Muliawan
30 Mei 2019

kaltimkece.id Keluarga kecil Sanadi baru saja menyantap hidangan sahur ketika putri sulung mereka, Natasya Aprilia Dewi, bergegas menuju surau. Seperti hari-hari biasanya sepanjang Ramadan, anak perempuan berusia 11 tahun itu menunaikan salat subuh di langgar dekat rumah. Natasya keluar mengenakan baju gamis kuning dipadu kerudung hitam.

Hanya satu yang tak biasa pada Rabu menjelang pagi, 29 Mei 2019 itu. Natasya tidak berpamitan kepada ayah dan ibunya; Sanadi, 34 tahun, dan Purwanti, 29 tahun. 

Di dekat langgar setelah salat berjamaah, Natasya bertemu teman-teman sebaya. Mereka semua bertujuh. Lima anak laki-laki dan dua perempuan, salah satunya Natasya yang duduk di kelas V SD Islam Jamiatul Muttaqin. Ketujuh anak itu kemudian jalan-jalan subuh. Rutenya adalah sebuah kolam yang jauhnya 700 meter dari permukiman. Dari Jalan Kebon Agung, Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, Samarinda, Natasya dan kawan-kawan masuk ke sebuah jalan setapak. Mereka harus melewati tanah makam sebelum tiba di tepi kolam.  

Tepat pukul enam pagi, Natasya dan teman-temannya berenang. Kolam itu kira-kira dua kali luas lapangan sepak bola. Dan cukup dalam. Natasya bersama seorang teman perempuan yang bernama Lala pun tenggelam.

Mengetahui kejadian itu, teman-teman Natasya yang lain berusaha membantu. Mereka melemparkan tali kepada Lala dan Natasya. Lala selamat dan berhasil naik ke tepi kolam. Sementara Natasya, baru tertolong setelah warga berdatangan karena mendengar teriakan anak-anak itu. 

Di rumah, Purwanti mulai disergap cemas. Sudah pukul setengah tujuh pagi tapi Natasya belum juga pulang. Tiba-tiba, ibu dua anak itu mendengar teleponnya berdering. Di ujung sambungan, seorang warga memberi tahu bahwa ada cucu Mbah Karti yang tenggelam. Mbah Karti tak lain ayah Purwanti. Yang berarti, cucu tersebut adalah Natasya.

"Saya langsung lari ke kolam," kisah Purwanti ketika ditemui kaltimkece.id di kediamannya, Kamis, 30 Mei 2019. 

Begitu Purwanti tiba di dekat kolam, Natasya sudah terduduk di dipan. Putrinya sadar meskipun sudah sangat lemas. Purwanti segera memeluk Natasya. Gamis kuning dan jilbab hitam putrinya itu masih basah. 

“Kamu ngapain ke sini, Nak?” tanya Purwanti dengan suara bergetar. 

“Aku diajak teman-teman, Bu,” jawab Natasya yang sudah di dalam dekapan ibunya.

Tubuh kecil Natasya dibawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat RSUD IA Moeis. Kondisinya memburuk. Menurut penjelasan dokter kepada pihak keluarga, paru-paru Natasya penuh air. Ia juga banyak menghirup kotoran. Beberapa pembuluh darah Natasya diketahui sudah pecah.

Tuhan rupanya lebih menyayangi perempuan mungil itu. Sepuluh jam berjuang melawan maut, Natasya mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 17.00 Wita. Ia menjadi korban ke-34 anak-anak yang tewas di lubang bekas tambang di Kaltim sepanjang 2011 hingga 2019.  

Purwanti yang mendampingi Natasya di rumah sakit menangis sejadi-jadinya. Tak pernah terlintas sedikit pun di pikirannya, putri sulungnya pergi secepat ini. Ketika Lebaran tinggal menghitung hari, Purwanti harus mengikhlaskan keceriaan putrinya. Tak akan pernah lagi ia melihat senyum Natasya. Untuk selama-lamanya. 

Kolam Bekas Tambang

Lubang maut yang merenggut nyawa Natasya dipastikan adalah kolam bekas tambang. Dari penelusuran Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim beberapa jam setelah kejadian, kolam ini diketahui sengaja ditinggalkan. Dibiarkan menganga tanpa pengamanan. Tak ditemukan pelang tanda bahaya maupun pagar pembatas. Begitu pula pos keamanan, tidak ada sama sekali. 

“Dari rumah terdekat, kolam ini hanya berjarak 2 meter," jelas Pradharma Rupang, dinamisator Jatam Kaltim. 

Menurut pemetaan yang Jatam lakukan, kolam ini diduga kuat masuk konsesi PT Insani Bara Perkasa (IBP). Natasya disebut bukan korban pertama di areal PT IBP. Menurut Jatam, pada 2012, seorang anak laki-laki bernama Maulana Mahendra juga tenggelam di areal yang dikuasai perusahaan. 

Peristiwa serupa terjadi lagi pada 9 April 2016. Jatam mencatat nama Muhammad Arham, seorang anak laki-laki yang terjatuh di limbah batu bara PT IBP yang tengah terbakar. Arham menjalani beberapa kali operasi. 

“Total ada enam kasus (di PT IBP) dengan dua korban jiwa,” jelas Rupang. 

Berdasarkan akta perusahaan pada 3 Oktober 2016, PT IBP adalah perusahaan tertutup dengan besaran modal dasar Rp 50 miliar. Secara resmi, perusahaan ini berkantor di Jalan Pembangunan I Nomor 3, Gambir, Jakarta Pusat. Sebesar 99 persen saham perusahaan dipegang PT Resources Alam Indonesia. 

Duduk sebagai komisaris utama PT IBP adalah Hendro Martowardojo. Sementara Pintarso Adijanto tercatat sebagai direktur utama. Informasi tersebut dikutip dari dokumen profil perusahaan yang secara resmi dimohon oleh Jatam kepada Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, Kementerian Hukum dan HAM.

Sementara menurut berkas yang kaltimkece.id terima dari Pemprov Kaltim, PT IBP adalah pemegang perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B). Izin jenis ini diterbitkan pemerintah pusat. Konsesi PT IBP merupakan PKP2B generasi ketiga dengan luas 24.477 hektare. Izin operasi produksi perusahaan telah diperbarui pada 2016 silam dengan status clean and clear

kaltimkece.id telah berusaha meminta konfirmasi perusahaan mengenai peristiwa ini. Namun, sepanjang Kamis, 30 Mei 2019 yang bertepatan dengan hari libur, panggilan media ini ke kantor PT IBP di Jakarta --sesuai nomor telepon yang tertera di dokumen perusahaan-- tidak dijawab. 

Tepat Hari Anti Tambang

Kematian Natasya bertepatan dengan peringatan Hari Anti Tambang (Hatam) pada 29 Mei 2019. Pada hari itu, sejumlah aktivis lingkungan di Kaltim mengadakan unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Kaltim. 

Baca juga:
 

Menurut Pradharma Rupang dari Jatam Kaltim, melayangnya nyawa Natasya membuktikan tiadanya tindakan konkret pemerintah. Duet Isran Noor dan Hadi Mulyadi sebagai gubernur dan wagub Kaltim patut dipertanyakan. 

“Kita seperti menunggu dan menunggu jumlah anak yang meninggal (di lubang tambang) terus bertambah. Sebagai pemegang kewenangan, Pemprov Kaltim harus bertanggung jawab,” seru Rupang. 

Wakil Gubernur Hadi Mulyadi memenuhi permintaan wawancara dari kaltimkece.id. Dia memastikan segera memberi penjelasan lengkap seputar permasalahan ini. Ketika berita ini ditayangkan, kaltimkece.id tengah menunggu wagub di kediamannya --sesuai janji temu yang telah dibuat. Hasil wawancara Hadi Mulyadi akan diterbitkan dalam berita terpisah. (*) 

Dilengkapi oleh: Giarti Ibnu Lestari
Editor: Fel GM
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar