Politik

Cebong versus Kampret, Barang yang Tak Laku di Kaltim

person access_time 7 months ago remove_red_eyeDikunjungi 2588 Kali
Cebong versus Kampret, Barang yang Tak Laku di Kaltim

Perseteruan Cebong dan Kampret (ilustrasi: Danoo)

Dua kubu berseteru

Jual beli kata selalu

Tak kenal lagi waktu

Ditulis Oleh: Sapri Maulana
02 Agustus 2018

kaltimkece.id Dunia maya Indonesia kian sesak dengan keributan dua “makhluk” bernama Cebong dan Kampret. Kedua kubu berseberangan itu tak pernah lelah dalam jual beli kata, menyebarkan warta palsu, saling menjatuhkan, hingga berlomba dalam sindir dan nyinyir. 

Cebong adalah sebutan bagi pendukung Presiden Joko Widodo. Kampret, sering diasosiasikan dengan kelompok Prabowo Subianto, merupakan antitesis Cebong. Perseteruan kedua kubu telah meruncing sejak Pemilihan Presiden pada 2014 silam. Seteru yang tak pernah berhenti dan makin tajam setelah kasus penistaan agama yang melibatkan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Menuju tahun politik pada 2019, para Cebong dan Kampret makin nyaring bunyinya. 

Di tengah keonaran itu, kaum netral yang bosan dengan riuh perdebatan mulai mengambil tempat. Para pendukung “nonblok” di kawasan yang jauh dari pusat pemerintahan mulai muncul, termasuk di Kalimantan Timur. kaltimkece.id menemui sejumlah warganet di Samarinda yang memilih abstain ketika disodori pilihan antara Cebong atau Kampret. 

Muhammad Iqbal, 25 tahun, adalah satu di antara kaum netral itu. Jebolan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mulawarman, Samarinda, ini, menilai bahwa perdebatan semakin kontraproduktif. Pendukung pemerintah tak jarang mencaci kubu yang berseberangan. Di pihak lain, kubu oposisi tidak menyampaikan kritik dengan bijak lagi. Sebagian malah dengan mudah menyebarkan hoaks alias warta palsu. “Jadinya muak melihat mereka sering berkelahi. Yang ada, hanya bisa menghujat. Inikah Indonesia?” tutur Iqbal kepada kaltimkece.id ketika ditemui pada Rabu, 1 Agustus 2018.

Baca juga: Menantang Mati Demi Eksistensi

Warganet Samarinda yang lain, Ahmad Payjo Yusuf, 28 tahun, menilai kedua kubu terlampau fanatik terhadap dukungannya. Dalam hal ini, Jokowi dan Prabowo. Fanatisme berlebih itu pada akhirnya seringkali berakhir dengan hoaks dan fitnah. “Sedikit saja informasi yang menjelekkan kubu lawan, langsung di-share. Mereka bahkan tidak tahu apakah informasi benar atau tidak. Dua-duanya sama saja,” ucap Yusuf. 

Menurutnya, keseimbangan antara kubu berposisi dengan oposisi memang diperlukan. Namun, ciri khas bangsa yang mengedepankan kesantunan bak sirna. Caci maki hanya karena beda opini seperti menjadi identitas baru. “Itu sebabnya, saya memilih netral. Tidak mau ikut-ikutan. Siapapun presidennya, si A atau si B, kita semua ingin satu; Indonesia bisa maju,” tambahnya. 

Tak Laku di Kaltim

Suara dunia maya di Kaltim bisa dilihat dari interaksi di grup-grup besar media sosial. Di ibu kota, Bubuhan Samarinda adalah grup Facebook terbesar yang bisa dijadikan acuan. Pada saat berita ini ditulis, anggota grup Bubuhan Samarinda telah mencapai 510 ribu akun. 

Victor Herman, 25 tahun, adalah salah seorang administrator di grup tersebut. Kepada kaltimkece.id, Victor mengakui, gelombang perang Cebong versus Kampret telah tiba di Samarinda. Namun, masyarakat Kota Tepian tidak terlampau menanggapinya. 

Dalam sehari, terang Victor, memang ada postingan yang berpotensi memancing kedua kubu itu muncul di grup. Konten yang berkaitan dengan kubu Cebong dan Kampret kerap diunggah menggunakan akun palsu. Mereka yang ketahuan memakai akun palsu atau kloning akan di-banned, dikeluarkan dari grup. 

Meskipun sejumlah postingan beraroma Cebong dan Kampret kerap muncul di Bubuhan Samarinda, Victor telah mempelajari dengan saksama. “Tanggapan terhadap postingan seperti itu tidak banyak. Kondisi di Samarinda atau Kaltim memang berbeda dengan daerah lain,” jelasnya. 

Victor juga memerhatikan bahwa pertarungan Cebong dan Kampret lebih banyak ditemui di dinding akun pribadi. Orangnya pun itu-itu saja. Meskipun demikian, administrator Bubuhan Samarinda mengaku, sadar akan potensi dari perdebatan tersebut. Mengampu grup dengan anggota lebih dari setengah juta orang, Victor dan kolega telah menyiapkan sejumlah antisipasi. Pertama, mereka mengimbau anggota grup tidak berkampanye politik. Kedua, mengawasi komentar di sejumlah postingan yang berpotensi berdampak luas. Tak menutup kemungkinan, postingan yang dinilai berbahaya atau merugikan publik dapat dihapus.

“Yang masih bisa dikontrol, kami biarkan. Tidak langsung dihapus karena ada tahapannya,” jelas dia. 

Ramai di Pulau Jawa

Suara Cebong dan Kampret sejatinya hanya ramai di Pulau Jawa dan sekitarnya. Di aplikasi Twitter, jumlah postingan berikut sebaran terhadap dua kata kunci tadi bisa diukur dengan presisi. kaltimkece.id memakai aplikasi Keyhole untuk menghitungnya. Dalam sepekan terakhir, dari 26 Juli sampai 2 Agustus 2018, kata “Cebong” telah dipakai untuk 856 postingan awal oleh 630 akun. Dari angka itu, dihasilkan perluasan kepada 17.541 akun, menjangkau 22,3 juta pengguna, dengan impresi atau kesan sebanyak 22,53 juta kali. 

Adapun kata “Kampret” pada jejak waktu yang sama, menghasilkan 470 postingan dari 367 pengguna. Jumlah itu memberikan perluasan kepada 74.617 akun, menjangkau 850 ribu orang, dan menghasilkan 910 ribu impresi atau kesan. 

Sebaran postingan Cebong dan Kampret, sementara itu, dapat diukur menggunakan aplikasi Trendsmap. Dari citra peta, sebagian besar kata kunci dan hashtag yang berkaitan dengan Cebong dan Kampret berasal dari barat dan selatan Indonesia. Pulau Jawa menjadi pusat keriuhan itu. 

Menurut Lutfi Wahyudi, pengamat politik lokal dari Universitas Mulawarman, Samarinda, pertarungan kubu Cebong dan Kampret semakin menguat jika Presiden Jokowi kembali bertarung melawan Prabowo Subianto pada 2019. Namun, Lutfi sepakat bahwa pertarungan kedua kubu di dunia maya hanya masif di wilayah tertentu. Bunyi nyaring hanya akan terdengar di Pulau Jawa dan sebagian Sumatra. 

“Di Sulawesi Selatan mungkin ada sedikit. Tetapi di Kaltim, jelas tidak laku,” terang Lutfi kepada kaltimkece.id, Rabu, 1 Agustus 2018. 

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik itu menilai, masyarakat Kaltim masih kurang berminat terhadap isu nasional. Pemilih di Kaltim, khususnya pengguna media sosial, justru cenderung lebih tertarik terhadap tokoh yang memberikan dampak langsung kepada mereka. Dalam konteks ini, maksud Lutfi, adalah calon legislatif daerah pemilihan Kaltim dan turunannya di tingkat kabupaten, kota, dan kecamatan.

“Itu juga karena pemilihan presiden dan legislatif bersamaan. Hiruk-pikuk dukungan kepada calon legislatif di Kaltim akan melemahkan keriuhan pertarungan Jokowi melawan Prabowo, jika keduanya bertarung kembali,” ulas Lutfi. 

Baca juga: Gubernur AFI: Sekolah Katolik, Anak Band, dan Kekalahan Menyakitkan

Meskipun demikian, Lutfi menilai ada hal positif dan negatif dari seteru Cebong dan Kampret. Cebong biasanya memakai pola bertahan yakni membela presiden petahana. Sebaliknya, Kampret cenderung menyerang. Hal baik dari perseteruan itu adalah kedua kubu peduli terhadap sosok pemimpin yang menentukan kebijakan.

Sayangnya, kata dia, kelemahan keduanya adalah cenderung tersulut amarah. “Maka yang kelihatan adalah saling olok dan sama-sama kurang dewasa. Kita sebaiknya jangan larut kepada agenda masing-masing pihak,” saran Lutfi. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar