Politik

Menilai Kualitas Debat Calon Wali Kota Samarinda (3): Salah Bertanya hingga Serahkan yang Pintar

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 1699 Kali
Menilai Kualitas Debat Calon Wali Kota Samarinda (3): Salah Bertanya hingga Serahkan yang Pintar

Suasana debat publik calon wali kota Samarinda, Ahad, 18 Oktober 2020.

Dalam sesi ini, para kandidat bertanya satu sama lain. Kemampuan menguasai materi visi dan misi yang mereka susun nampak secara kasat mata.

Ditulis Oleh: Fel GM
19 Oktober 2020

kaltimkece.id Tanya jawab antarkandidat berlangsung dalam enam bagian. Setiap kandidat berhak bertanya kepada dua calon wali kota yang lain. Dalam sesi ini, hampir sebagian besar kandidat menanyakan visi dan misi yang diusung calon yang lain. Setiap kandidat yang bertanya diberi waktu 60 detik. Sementara untuk yang menjawab, disediakan waktu 120 detik.

Ada yang menarik dalam pembuka debat ini. Calon nomor urut satu, Muhammad Barkati, sempat salah menujukan pertanyaan. kaltimkece.id menyertakan transkripsi utuh dari debat publik agar pembaca lebih objektif melihat tuturan para kandidat (transkripsi ini boleh diabaikan apabila pembaca telah menyaksikan siaran langsung maupun rekaman debat tersebut). Kami melakukan beberapa perbaikan minor demi kenyamanan pembaca belaka.

Untuk mengukur kualitas para calon wali kota dalam debat, kaltimkece.id meminta pakar politik daerah Lutfi Wahyudi memberi penilaian seobjektif mungkin. Persepsi utuh dari akademikus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman, sekaligus kandidat doktor ilmu politik dari Universitas Gadjah Mada, tersebut, kami letakkan di bagian akhir setiap jawaban para kandidat. Berikut artikel terakhir serial ini yang berisi tanya-jawab antarkandidat.

[Moderator]: Kami persilakan calon wali kota nomor urut satu bertanya kepada calon wali kota nomor urut dua.

[M Barkati bertanya kepada Andi Harun]: Pak Zairin, kita tahu, kebijakan pemerintah daerah dirumuskan bersama antara eksekutif dan legislatif. Bagaimana pandangan bapak sebagai calon perseorangan atau independen?

[Moderator]: Saya persilakan calon nomor urut dua, Bapak Dr H Andi Harun dapat…

[Zairin Zain]: Pertanyaan itu ke saya.

[Moderator]: Baik, kami ulangi sekali lagi. Calon wali kota nomor urut satu bertanya kepada calon wali kota nomor urut dua. Kami persilakan calon wali kota nomor urut dua untuk menjawab.

[M Barkati mengulangi pertanyaan kepada Andi Harun]: Ya, mohon maaf. Menurut perhitungan bapak, sesuai dari visi-misi Samarinda sebagai kota peradaban, kira-kira perlu berapa lama waktu untuk menjadikan Samarinda sebagai pusat peradaban?

[Andi Harun menjawab pertanyaan M Barkati]:

Visi itu adalah gagasan besar. Visi itu adalah landasan ideal dari pikiran dasar yang kita bangun untuk pembangunan lima tahun ke depan. Derivasinya ada visi-misi dan program. Kita yakin, semua misi yang turun dari visi kami insya Allah akan selesai dalam jangka waktu masa periode kami. Semua program unggulan yang kami lakukan, telah diperhitungkan waktu, unsur pembagian kewenangan. Ada tanggung jawab kota, provinsi, dan juga pusat. Kami perhitungkan juga skema pembiayaan, modal eksekusi pembiayaan, sampai pelibatan semua sumber daya baik manusia maupun anggaran serta instrumen pendukung lain.

Kami bisa memastikan bahwa dalam jangka waktu satu periode ini, kami akan melakukan seluruh upaya yang telah disampaikan yang merupakan janji kami kepada rakyat. Oleh sebab itu, kami ingin yakinkan kepada seluruh pemirsa dan warga kota Samarinda, bahwa paslon nomor dua, semua program, visi, dan misi, telah kami uji secara akademis. Kami libatkan perguruan tinggi di Kaltim dan Surabaya sehingga insya Allah kredibel.

[Penilaian pengamat politik Lutfi Wahyudi]: Pernyataan yang bombastis dan terlalu optimistis.

***

[Moderator]: Selanjutnya, kami persilakan calon wali kota nomor urut dua bertanya kepada calon wali kota nomor urut tiga.

[Andi Harun bertanya kepada Zairin Zain]: Pak Doktor Zairin, beliau ini sahabat saya. Lama saya di DPR dan pemerintahan. Saya baca visi-misi Samarinda Bangkit kurang lebih 44 halaman dan karakternya saya yakin tidak semua Pak Zairin yang ini, karena hampir semua pencapaian pemerintah kota itu minus. Dan itu bukan karakter Pak Zairin. Saya tahu Pak Zairin, lama betul saya bersahabat dengan beliau. Saya ingin tanya, ada program layanan internet gratis, insentif tenaga kesehatan, pendidik, dan guru honor setara UMK, 20 ribu lowongan kerja baru, infrastruktur penunjang baru di Samarinda Seberang. Saya ingin tanya, dari mana semua kira-kira penyiapan anggarannya?

Zairin Zain menjawab pertanyaan Andi Harun:

Jadi, apa yang sudah kami buat dalam program unggulan yang disampaikan Pak Andi Harun itu betul. Kami ingin bagaimana saat ini internet gratis diutamakan karena memang sangat dibutuhkan. Pandemi ini, anak-anak harus sekolah melalui internet. Kalau tidak ada internet, mereka tidak akan bisa terus belajar. Kami ingin, bersama Pak Sarwono, internet gratis ini akan kami persiapkan nantinya karena kami hitung dari besaran yang ada itu mencukupi dari APBD. Kami berani memberikan internet gratis bisa menjangkau ke daerah-daerah yang blank spot.

Lalu bagaimana kami ingin 25 ribu tenaga kerja yang ada, yang saat ini menganggur kurang lebih 27 ribu. Kami ingin mereka ini akan dilatih karena pasar kerja cukup terbuka. Apalagi ibu kota negara akan dibangun di Kalimantan Timur. Kita harus persiapkan itu lima tahun ke depan. Banyak peluang pasar kerja yang disiapkan untuk itu. Tenaga untuk cleaning service saja bisa dibutuhkan sampai 10 ribuan, belum lagi tenaga kelistrikan, AC, taman, dan lain sebagainya. Ini harus dipersiapkan dari sekarang. Dan itu tenaga kerja kita yang pengangguran itu, nantinya sudah siap pakai di pasar kerja. Inilah program yang ingin kami lakukan dengan Pak Sarwono apabila dipercaya oleh masyarakat.

[Penilaian pengamat politik Lutfi Wahyudi]: Program terobosan ini bagus. Sayangnya, tidak sekalian dijelaskan penganggarannya sebagaimana yang ditanyakan.

***

[Moderator] Selanjutnya, kami persilakan calon wali kota nomor urut tiga bertanya kepada calon wali kota nomor urut satu.

Zairin Zain bertanya kepada M Barkati:

Pak Barkati, kita tahu persis, saat ini anak-anak didik kita sangat terpuruk selama pandemi. Kira-kira apa upaya yang bisa dilakukan dalam waktu singkat, dalam waktu dekat, agar mereka nanti benar-benar mengenyam pendidikan yang lebih baik?

M Barkati menjawab pertanyaan Zairin Zain:

Dalam waktu singkat, tentunya, kita perlu tahu apa yang menjadi kebutuhan mereka, siswa-siswa kita. Paling utama adalah internet. Yang kedua sarana internet, sarana jaringan, yang banyak mungkin selama ini di daerah-daerah ujung, di perbatasan-perbatasan, hampir tidak ada jaringan. Mereka mencari jaringan harus berjalan 1 kilometer sampai 2 kilometer. Mungkin, nanti kami bekerja sama dengan Telkom atau vendor-vendor yang lain untuk menyediakan sarana internet melalui wi-fi. Dengan wi-fi gratis, mereka juga bisa mendapatkan… eh…, dengan wi-fi gratis mereka bisa belajar dan kita tahu juga, ‘kan tidak mungkin ada pendidikan yang bertatap langsung. Otomatis semua harus melalui internet. Dan memberikan beasiswa tuntas bagi semua siswa kita. Karena apa, banyak keluhan masyarakat kita. Sudah biaya pulsa, kemudian masih juga membayar SPP. Jadi perlu adanya SPP gratis.

Pengamat politik Lutfi Wahyudi tidak memberikan penilaian terhadap jawaban ini.

 ***

[Moderator] Selanjutnya, kami persilakan calon wali kota nomor urut satu bertanya kepada calon wali kota nomor urut tiga.

M Barkati bertanya kepada Zairin Zain:

Sama aja yang tadi jua. Salah aja yang tadi. Tadi tesalah aja, salah kamar. Kita tahu kebijakan pemerintah daerah dirumuskan secara bersama antara eksekutif dan legislatif. Bagaimana pandangan bapak selaku calon independen?

Zairin Zain menjawab pertanyaan M Barkati:

Terima kasih, Pak Barkati. Jadi dalam proses pemerintahan, baik legislatif dan eksekutif, ada protap yang sudah kita ikuti. Kami selaku calon perseorangan, tidak ada partai pendukung di situ, tetapi sudah ada protap. Artinya, kami berpegang kepada rencana pembangunan lima tahun daerah. RPJMD itulah pegangan kita bersama-sama. Karena RPJMD itu sebagai buku biru kita untuk membangun Samarinda lima tahun ke depan. Jadi kita tidak mungkin lepas dari program yang sudah ada di situ. Artinya, apapun kami sebagai calon perseorangan, tetapi komunikasi dan hubungan dengan partai di legislatif tetap berjalan dengan baik sesuai protap. Inilah fungsi dan tugas yang kami lakukan karena memang pegangan kita ada RPJM ada RKPD. Itulah yang menjadi acuan kita sehingga tidak ada benturan anggaran nanti misalnya rebutan dan sebagainya. Sudah ada aturan-aturan sehingga ada pembagian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat kita.  

[Penilaian pengamat politik Lutfi Wahyudi]: Yang tidak dijelaskan kandidat perseorangan ini adalah relasi yang terjadi antara Pemkot dengan DPRD nantinya. Meskipun demikian, kandidat perseorangan ini patut diapresiasi. Terlepas bagaimana caranya, pasangan nomor urut tiga ini berhasil mengumpulkan dukungan dan maju sebagai calon kepala daerah. Mereka menjadi alternatif pilihan di luar yang diusung partai politik.

***

[Moderator]: Selanjutnya, kami persilakan calon wali kota nomor urut tiga bertanya kepada calon wali kota nomor urut dua.

[Zairin Zain bertanya kepada Andi Harun]: Kita sudah melihat apa yang kita bahas dari awal yakni masalah Covid ini. Kami melihat harus segera ada gerakan-gerakan yang bisa membantu masyarakat agar bisa hidup lebih tenang dan tidak ketakutan. Kira-kira apa langkah Pak Andi Harun ke depan untuk mengatasi hal ini?

[Andi Harun menjawab pertanyaan Zairin Zain]: Untuk pertanyaan Pak Doktor Zairin, kami bahkan telah menyiapkan program 100 hari kerja. Jadi dalam program ini, kami langsung melakukan aksi dalam bentuk, satu, penanganan Covid dari sisi kesehatan. Yang kedua, kami menggerakkan semua potensi, termasuk dari lingkungan pemerintah, untuk melakukan upaya pemulihan ekonomi. Tidak saja pemulihan kesehatan dari sisi warga yang terjangkit, tetapi kami juga melakukan tracking sehingga memperkecil ruang Covid di Samarinda, sekaligus pada saat yang bersamaan kita tumbuhkan psikologi yang beberapa bulan terakhir ini down di Samarinda. Tumbuhnya rasa percaya diri, insya Allah, masyarakat akan bersama-sama dengan pemerintah untuk membantu penanganan Covid.

Yang kedua, yang paling utama, kami telah menyiapkan program 100 hari kerja Samarinda Sehat, Samarinda Pulih. Langkah pertama adalah memastikan kesiapan cadangan pangan di Samarinda termasuk membuat program memberikan bantuan sembako kepada seluruh masyarakat di Samarinda.

[Penilaian pengamat politik Lutfi Wahyudi]: Program yang baik. Akan tetapi, wujud nyata dari program ini belum terelaborasi dengan baik.

***

[Moderator] Selanjutnya, kami persilakan calon wali kota nomor urut dua bertanya kepada calon wali kota nomor urut satu.

Andi Harun bertanya kepada M Barkati:

Kebetulan saya memegang, kedua pasangan calon ini, sudah saya baca habis visi-misinya. Dan salah satu program visi-misi paslon nomor satu, di halaman 42, ada keinginan melakukan peningkatan pencapaian MDGs, Milenium Development Goals dalam hubungannya dengan program unggulan yang telah ditulis, tercantum, dan diserahkan kepada KPU. Pertanyaan saya, bagaimana paslon nomor satu melakukan upaya peningkatan pencapaian MDGs tadi?

M Barkati menjawab pertanyaan Andi Harun:

Pak Doktor Andi Harun, sama aja kita. Visi-misi ini pasti handak (ingin) yang baik-baik terus. Ya, kan? Insya Allah, pencapaian untuk mendapatkan MDGs, tentunya, kita harus bekerja semaksimal mungkin. Apa yang kita inginkan harus kita kerjakan dan… semua kada ngalih-ngalih pang (tidak susah-susah). Ya, yang baik-baik aja. Sesuai dengan visi kami, kami ingin menjadikan Samarinda dibanggakan dan terdepan. Dan kalau teknis-teknis itu, biar yang pintar-pintar aja yang menganu. Kita ini cukup mendorong saja bagaimana yang pintar-pintar itu, yang teknis-teknis itu, bisa begawi (bekerja) sesuai dengan keahliannya. Karena jika kita tidak menempatkan mereka, birokrasi kita, salah satunya di tempat yang sesuai keahliannya, kada mungkin bisa tercapai milenium, kada bisa tercapai. Itu salah satunya.

Kemudian, bagaimana birokrasi kita juga harus benar-benar taat dengan aturan sehingga tidak ada yang korupsi, gratifikasi. Itu menjadi komitmen kita semua. Insya Allah, dan, bagaimana dengan masyarakat tentunya kita harus fokus dengan kerja. Dan teori-teori akan kita serahkan kepada pakar-pakar. Insya Allah banyak pakar-pakar… (waktu berakhir).

Pengamat politik Lutfi Wahyudi tidak memberikan penilaian terhadap jawaban ini.

***

Penilaian Keseluruhan Debat

Menurut Lutfi Wahyudi dari Universitas Mulawarman, pilkada pada dasarnya bukan hanya kebutuhan memuaskan hasrat intelektualitas. Harus diingat, terangnya, ceruk pemilih yang mementingkan intelektualitas dan kapasitas tidak terlalu banyak. Dengan kata lain, tidak banyak orang yang mengidolakan kandidat berdasarkan tingkat intelektualitas. Debat tidak terlalu menentukan pemenang pilkada. Faktanya demikian karena pemilu di Indonesia masih didominasi pemilih emosional, sentimental, dan tradisional.

“Hal ini bisa saja disadari para calon,” kata dosen ilmu pemerintahan ini.

Menurut Lutfi, kandidat nomor urut dua dan tiga yaitu Andi Harun dan Zairin Zain memiliki gelar akademik yang mentereng. Gelar akademik keduanya adalah yang tertinggi. Lutfi berprasangka baik bahwa keduanya punya keinginan kuat beradu intelektual walaupun tidak nampak. Andi Harun disebut tampil tidak seperti biasanya walaupun beberapa kali berhasil merangkai kata-kata yang bagus. Sementara Zairin, masih khas seorang birokrat. Bagus di awal sayang tidak menukik di belakang.

Boleh jadi hal itu disebabkan karena kepentingan elektoral menurut Lutfi. Ada kecenderungan dalam pilkada, kandidat yang ‘dizalimi’ dalam debat oleh kandidat yang pintar-pintar justru menang. Politik disebut sangat cair karena orang yang norak dan lucu saat debat bisa menang.

Contoh paling segar adalah Pemilihan Gubernur 2018. Calon yang menunjukkan kenorakan sejak debat, kata Lutfi, akhirnya sulit mengambil kebijakan yang smart begitu duduk sebagai pemimpin. “Kecuali berani mempertahankan sekprov (sekretaris provinsi) pilihannya, belum ada kebijakan yang bisa diapresiasi,” terangnya. (*)

Indeks Laporan Menilai Kualitas Calon Wali Kota Samarinda
 
Temui kami di Instagram!
 
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar