Ragam

Mengapa Paving Block Taman Samarendah adalah Sebuah Kekeliruan?

person access_time 6 months ago remove_red_eyeDikunjungi 3955 Kali
Mengapa Paving Block Taman Samarendah adalah Sebuah Kekeliruan?

Ilustrasi: danoo/kaltimkece

Sebuah kekeliruan
Berbuah keluhan

Ditulis Oleh: Fel GM
05 September 2018

kaltimkece.id Sejak pertama kali dipasang, hamparan paving block yang mengelilingi Taman Samarendah telah menuai kritikan. Muka jalan yang dilapisi bata beton dianggap tidak cocok dengan status jalur lingkar Taman Samarendah. Ruas itu adalah jalan protokol yang ramai kendaraan. 

Seluruh kritik itu terbukti hari ini. Warga kota ramai-ramai mengeluhkan permukaan jalan yang tidak rata dan bergelombang di Taman Samarendah. Beberapa paving block yang pecah menciptakan lubang sehingga harus berkali-kali ditambal. Kerusakan yang mengganggu pengguna jalan juga terlihat di depan kantor Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan Samarinda. Permukaan paving block bukan lagi bergelombang, melainkan telah keriting. 

Padahal, penggunaan paving block sebagai lantai taman sebenarnya hal lumrah. Paving block atau bata beton juga biasa dipasang di tempat parkir, trotoar, maupun penghubung antargedung. Jenis bata ini banyak pula dipakai di pelabuhan peti kemas, area industri, sampai taxi way bandara (Jurnal Ilmiah Teknik Industri Prima, 2017, hlm 33).  

Pada dasarnya, pemilihan paving block sebagai pengeras tanah didasari atas alasan estetika. Paving block lebih sedap dipandang mata ketimbang cor beton atau aspal. Kelebihan paving block berikutnya adalah kemampuan menyerap air sehingga menjaga keseimbangan air tanah di bawahnya. Ditilik dari sisi biaya, paving block juga lebih murah dibanding aspal. Memang, angka pembangunan keduanya nyaris seragam, yakni antara Rp 80 ribu sampai Rp 100 ribu per meter persegi. Namun demikian, bata beton tidak memerlukan biaya perawatan sebagaimana jalan beraspal.

Dari keunggulan-keunggulan itu, terselip pelbagai kelemahan paving block. Kepingan bata beton yang disusun satu per satu biasanya meninggalkan rongga. Celah kosong yang berfungsi sebagai penyerap air justru menimbulkan ketidaknyamanan. Terutama bagi kendaraan yang melaju dalam kecepatan sedang dan tinggi. 

Ketika dipasang di atas fondasi yang tak kuat, paving block juga rawan rusak. Landasan yang goyah membuat permukaan paving block bergelombang. Itu sebabnya, paving block hanya dipakai di tempat parkir atau jalan perumahan yang tidak dilewati kendaraan berkecepatan tinggi (Pengaruh Faktor Air Semen dan Mix Design pada Pembuatan Bata Beton terhadap Kuat Tekan, 2014, hlm 10-11). 

Jalur lingkar Taman Samarendah jelas bukan jalan taman belaka. Ia juga berfungsi sebagai penghubung sejumlah jalan protokol. Posisinya strategis sehingga banyak kendaraan yang melintas. Paving block, meskipun memiliki nilai estetika bagi keindahan taman, tidak akan cocok dipasang di Taman Samarendah. 

Sebagai jalan protokol, jalur itu dilewati kendaraan berkecepatan sedang dan tinggi. Jalur lingkar Taman Samarendah yang bergelombang bukan saja membuat pengemudi tak nyaman. Kendaraan yang rutin melintasi jalan tersebut berpotensi menderita kerusakan dalam jangka waktu tertentu. Alhasil, atas ketidaknyamanan tadi, taman yang dibangun Pemkot Samarinda di lahan 2,5 hektare dengan anggaran Rp 30 miliar itu kerap diberi label negatif. 

Trotoar, Bukan Jalan Raya

Nyaris tak satu pun jalan protokol di dunia memakai paving block. Hal itu seturut dengan perkembangan bata beton dari masa ke masa. 

Sejarah mencatat, ubin batu pertama kali digunakan di Asiria, Mesopotamia, Irak, pada 4.000 tahun sebelum Masehi. Batu bata dari tanah liat kemudian ditemukan di India sebagai pengganti ubin batu, pada abad ketiga sebelum Masehi. Adapun konsep yang paling mendekati paving block modern, baru dipakai bangsa Romawi kuno. Mereka menggunakan balok dari batu buatan tangan untuk melapisi trotoar di seluruh wilayah kekaisaran (Concrete Paving Blocks: Facilities Engineering Applications Program Demonstration, 1991, hlm 5)

Adalah Belanda, negeri yang mendokumentasikan penggunaan batu alam dan kayu dengan baik. Pada abad pertengahan, Belanda telah memakai blok batu dan kayu untuk trotoar di seluruh negeri. Teknologi itu kemudian menyebar ke daratan Eropa Barat sampai sebelum Perang Dunia II. Trotoar tradisional di Benua Biru menggunakan bata tanah liat berbentuk persegi panjang. 

Baca juga:
 

Setelah Perang Dunia II, paving block dari beton baru digunakan. Banyaknya bangunan yang hancur karena perang membuat permintaan batu bata tanah liat meningkat tajam. Beton paving block pun digunakan sebagai gantinya. Bata beton pertama kali diperkenalkan di Belanda pada 1951. Satu dekade kemudian, paving block beton dengan desain Jerman diproduksi di Amerika Serikat pada 1960-an. Amerika Serikat menggunakan paving block untuk menambah estetika trotoar, taman, halaman, jalan masuk rumah, dan area parkir (hlm 6). 

Merunut perkembangannya, tidak satu pun catatan menyebutkan paving block digunakan sebagai landasan jalan protokol. Kecuali, di Taman Samarendah. (*)

Senarai Kepustakaan
  • Anderton, Gary L, 1991. Concrete Paving Blocks: Facilities Engineering Applications Program Demonstration, Mississippi: Department of The Army Waterways Experiment Station, Corps of Engineers. 
  • Sembiring, Anita Christine, dan Saruksuk, Jetri Juli. 2017. Uji Kuat Tekan dan Serapan Air pada Paving Block dengan Bahan Pasir Kasar, Batu Kacang, dan Pasir Halus, Jurnal Ilmiah Teknik Industri Prima, ISSN: 2581-057X. 
  • Wahyulie, Arief, 2014. Pengaruh Faktor Air Semen dan Mix Design pada Pembuatan Bata Beton terhadap Kuat Tekan, Skripsi, Jogjakarta: Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. 
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar