Terkini

Dari Blunder Pembagian Sembako beserta Pembelaannya, Pak Isran, Cintamu Membunuhku

person access_time 6 months ago remove_red_eyeDikunjungi 2651 Kali
Dari Blunder Pembagian Sembako beserta Pembelaannya, Pak Isran, Cintamu Membunuhku

Warga berjejalan di depan pagar kediaman Gubernur Isran Noor (foto: WAG Aksi Kamisan Kaltim)

Pembagian sembako oleh keluarga Gubernur Isran Noor justru mengundang kerumunan ribuan orang.

Ditulis Oleh: Giarti Ibnu Lestari
23 April 2020

kaltimkece.id Seorang gadis tergeletak di tanah tak jauh dari pagar kediaman Gubernur Kaltim Isran Noor yang telah menjadi lautan manusia. Gadis berusia belasan tahun itu mengenakan atasan putih dan celana hitam. Ia keluar dari kerumunan ribuan orang lalu pingsan karena kehabisan oksigen. Seorang perempuan berkerudung yang lebih tua menyediakan pahanya untuk menyangga kepala si gadis. Perempuan itu mengipas-ngipas dengan sehelai kain hingga akhirnya gadis itu siuman.     

Kamis siang, 23 April 2020, sehari sebelum bulan suci Ramadan, sebuah peristiwa yang tak disangka terjadi di luar rumah Isran di Jalan Adipura, Kelurahan Karang Asam Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda. Ribuan orang, termasuk gadis malang tadi, berjejalan di luar kediaman pribadi gubernur. Sebagian mereka mengenakan masker, sebagian lagi tidak. Warga berdesak-desakan tanpa jarak. Tubuh-tubuh bersenggolan, terjepit, dengan napas tersengal-sengal demi sebuah paket sembako. 

Kepala Biro Humas, Sekretariat Provinsi Kaltim, M Syafranuddin, membenarkan pembagian sembako diadakan keluarga besar gubernur. Bantuan rutin ini ditujukan kepada keluarga kurang mampu di sekitar kediaman Isran Noor. 

Dalam keterangan pers yang diterima kaltimkece.id, keluarga gubernur sebenarnya sempat berpikir meniadakan kegiatan tersebut pada masa pandemi. Namun demikian, diputuskan bahwa sembako tetap dibagikan dengan menerapkan protokol Covid-19. Di halaman rumah pribadi Isran, physical distancing diterapkan dengan sangat baik. Masyarakat yang akan menerima sembako diperiksa suhu tubuh oleh panitia. Mereka juga mencuci tangan, mengenakan masker, lalu berbaris dengan jarak lebih dari 1 meter masing-masing. 

Namun yang terjadi di luar pagar rumah justru sebaliknya. Warga semakin banyak berdatangan. Jumlahnya, diperkirakan mencapai ribuan orang. Mereka berjejal di dekat pagar menunggu antrean untuk masuk. 

"Melihat banyaknya warga, keluarga gubernur dibantu warga sekitar mau tidak mau melayani," terang M Syafranuddin. Ia menambahkan bahwa gubernur dan keluarga menyampaikan permohonan maaf apabila pembagian sembako dinilai kurang tepat. 

"Pembagian sembako tiada lain sebagai bentuk kecintaan kepada masyarakat yang serba kesulitan di tengah pandemi Covid-19," jelas Kabiro Humas Setprov Kaltim. 

Bentuk Cinta yang Membunuh Warga

Kerumunan orang dengan jumlah ribuan adalah hal yang sangat riskan pada masa pandemi. Jika sampai terjadi transmisi Covid-19 di dalam kerumunan ini, angka positif di Kaltim terutama Samarinda akan naik berkali-kali lipat. Bayangkan saja, jika 500 orang terinfeksi karena berdesak-desakan, 45 orang di antara mereka terancam meninggal dunia (sesuai tingkat kematian Covid-19 di Indonesia yaitu hampir 9 persen). Cinta gubernur tadi justru berisiko membunuh warganya.  

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Andi M Ishak angkat suara. "Sebenarnya Satpol PP sudah mengantisipasi terutama di dalam area kediaman pribadi Gubernur. Namun, antusiasme masyarakat sepertinya tidak terantisipasi dengan baik. Masyarakat yang datang membeludak dan warga di depan pagar rumah tidak tertangani dengan baik," terang Andi M Ishak yang dikonfirmasi melalui aplikasi Zoom. 

Ia menambahkan bahwa Pemprov Kaltim senantiasa mengingatkan masyarakat untuk menghindari berkumpul dalam jumlah banyak di satu tempat. Kejadian ini adalah masukan, evaluasi, dan bahan pembelajaran. Yang dikhawatirkan dari kerumunan semacam ini, sambungnya, apabila orang tanpa gejala atau orang yang bergelaja ringan turut bergabung. 

"Kemungkinan besar bisa terjadi penularan," jelas Andi. 

Kepala Kepolisian Resor Kota Samarinda, Komisaris Besar Polisi Arif Budiman, mengatakan, ada salah pengertian di masyarakat. Pembagian sembako tidak sampai 1.000 paket namun hanya sekitar 600 paket. Setelah paket sembako habis, warga ternyata belum bubar. 

"Yang namanya pembagian sembako, pasti masyarakat antusias. Kepolisian hanya mengamankan," terang Kapolresta. 

Bukan yang Pertama

Blunder dan pernyataan nyeleneh seperti tidak lepas dari seorang Isran Noor. Mantan Bupati Kutai Timur ini berulang kali mengeluarkan pernyataan yang memantik sorotan publik. Yang cukup mencolok adalah pernyataan kepada awak media pada 24 Oktober 2018. Di hadapan juru warta di Samarinda, Isran memberi tanggapan soal korban tewas ke-30 di lubang tambang yang saat itu jatuh di Kutai Kartanegara.

"Oh, enggak masalah. Nasibnya kasihan. Ikut prihatin. Pastilah ikut prihatin. Korban jiwa itu di mana-mana terjadi. Ya, namanya nasibnya dia, meninggalnya di kolam tambang. Kan gitu. Gitu aja, prihatin," sebut Isran.

Pada 1 Desember 2018, Gubernur kembali disorot setelah menanggapi peristiwa longsor di Kampung Jawa, Kecamatan Sangasanga, Kutai Kartanegara. Dalam kejadian yang meruntuhkan enam rumah, Isran dengan yakin mengklaim, bukan disebabkan aktivitas tambang batu bara. “Jaraknya (aktivitas tambang) jauh. 200 meter. Jauh,” sebutnya.

Isran Noor juga diwawancara harian Kompas soal korban jiwa di lubang tambang sejak 2011 hingga 2018 yang menelan 32 nyawa, sebagian besar anak-anak. Sang Gubernur kembali menjawab dengan nyeleneh. “Heran juga aku. Jangan-jangan ada hantunya. Kok, banyak korban anak-anak.”

Sikap Isran kembali jadi perhatian pulbik saat tak tampak batang hidungnya ketika banjir besar melanda Samarinda pada pekan pertama Juni 2019. Ia beralasan tak ingin disebut pencitraan. "Saya lebih memilih berkoordinasi kepada semua pihak berwenang," ucapnya, Senin siang, 10 Juni 2019. Setelah ramai mendapat respons warganet, Isran tampak turun meninjau langsung keesokannya.

Tak sampai di situ, saat praktik tambang ilegal terkuak di Jalan Banggeris, RT 5, Kelurahan Tuluk Lerong Ulu, Kecamatan Samarinda Ulu, Isran juga menanggapi dengan santai. Bahkan disebut hal biasa. "Kenapa memang dia (tambang)? Biasa saja kok. Tambang itu biasa," ucap Isran kepada awak media, Kamis, 20 Juni 2019.

"Kamu kan bicara dampak, ya, dampaknya kamu jangan tanya ke saya. Kecuali dia ilegal," tambah Isran yang terburu-buru meninggalkan awak media.

 
Baca juga:
 

Blunder Isran yang lain ketika ia mengajukan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto sebagai lokasi inti ibu kota negara. Menurut Isran, lokasi ini cocok karena bukan wilayah banjir sebagaimana Jakarta. Namun, wacana ini dikritik secara luas mengingat peran Bukit Soeharto sebagai hutan konservasi. Pada akhirnya, pemerintah pusat menjadikan kawasan Bukit Soeharto sebagai pendukung lingkungan ibu kota negara dengan tetap menjaga kelestariannya.

Pernyataan Isran yang kontroversial juga datang pada masa pandemi. Isran sempat menyebut lebih baik menghadapi rudal Korea Utara daripada wabah. Ia juga mengatakan, pandemi Covid-19 mereda memasuki April 2020. Hingga hari ke-23 pada bulan yang ia maksud, pandemi malah makin menanjak menuju titik puncak. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar