Terkini

Detail Data dan Angka Pertanda Banjir Besar, Warga Sebaiknya Berjaga-jaga

person access_time 1 week ago remove_red_eyeDikunjungi 466 Kali
Detail Data dan Angka Pertanda Banjir Besar, Warga Sebaiknya Berjaga-jaga

Genangan di Perumahan Bengkuring membuat murid SD 024 dipulangkan lebih cepat (foto: wahyu musyifa/kaltimkece.id)

Warga sebaiknya berjaga-jaga. Data dan angka berikut mengindikasikan, banjir besar segera melanda. 

Ditulis Oleh: Arditya Abdul Azis
13 Januari 2020

kaltimkece.id Matahari sedang terik tetapi Waduk Benanga yang sudah berusia 42 tahun masih sibuk menampung air dari hulu. Di pintu air yang di atasnya terbentang jembatan, aliran air keluar tiada berhenti. Jelas sekali bahwa bendungan irigasi seluas 150 hektare di Lempake, Samarinda Utara, itu sudah kepayahan. 

Senin pagi, 13 Januari 2020, tinggi muka air --ukuran debit air waduk-- sudah menyentuh 80 sentimeter. Dari ketinggian tersebut, Waduh Benanga telah memasuki level kuning atau berstatus siaga. Hujan yang seperti tak beristirahat pada Sabtu hingga Minggu, 11-12 Januari 2020, membuat tinggi muka air terus bertambah. 

Pada Senin sore atau beberapa jam dari pantauan pertama, tinggi muka air waduk menembus 89 sentimeter. Hanya sedikit lagi sebelum Waduk Benanga mencapai level merah atau berstatus awas.

Dampaknya mulai nampak. Ratusan rumah yang berdekatan dengan Sungai Karang Mumus terendam. Paling banyak di Perumahan Bengkuring, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara. Sudah tiga hari ini, banjir melanda 10 RT dengan korban terdampak 1.930 jiwa dari 561 kepala keluarga. Ketinggian air antara 50 cm hingga 70 cm. 

Hendra AH, sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, mengatakan bahwa kenaikan tinggi muka air cukup signifikan. Bendungan Benanga disebut menerima limpahan air dari arah Sungai Siring, Samarinda Utara.

Hendra kemudian memaparkan informasi mengenai pintu air Waduk Benanga. Ada tiga ukuran yang ditandai tiga warna yakni hijau, kuning, dan merah. Tiap-tiap warna menentukan langkah yang harus diambil. Hijau untuk waspada, kuning artinya siaga, dan merah adalah awas. 

Senin sore, ketinggian muka air bendungan yakni 89 cm. Angka ini adalah puncak status siaga. Jika memasuki 90 cm, warga Kota Tepian mesti awas karena sudah memasuki level merah. Hendra mengatakan, air kemungkinan melimpah keluar dari bendungan jika sudah di level merah. Belum lagi jika ada bocoran atau rembesan tanah di bendungan. 

BPBD Samarinda terus memantau ketinggian banjir. Apabila air naik pada malam hari, BPBD akan membangun posko di lokasi terdampak banjir. Sejumlah perahu karet disiagakan.

Dugaan Rawa Tertutup

Kepala Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan, Badan Wilayah Sungai Kalimantan III, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kalpin Nur, membenarkan bahwa Samarinda saat ini memasuki persiapan siaga banjir. "Untung saja, Sungai Mahakam sedang surut sehingga sedikit membantu. Banjir tidak terjadi dengan cepat," tuturnya. 

Kepala BWS Kalimantan III, Anang Muchlis, menambahkan bahwa kenaikan debit air tidak hanya dari curah hujan. BWS Kalimantan III menemukan dua jenis aliran dari hulu Bendungan Benanga. Ada perbedaan warna air dari kedua aliran tersebut. Aliran pertama jernih, yang kedua keruh. 

Baca juga:
 

Ada kemungkinan, kata Kalpin, kenaikan debit air di Waduk Benanga bukan sepenuhnya karena curah hujan yang intens. Ia menengarai, ada rawa di hulu Waduk yang tertutup. Air pun tak tertampung di rawa namun langsung memenuhi bendungan.

"Dari informasi dari Pak Sekda (sekretaris kota Sugeng Chairuddin), ada rawa-rawa di hulu yang disodet," jelasnya, kemudian menambahkan, "Kami akan memastikan itu."

Puncak Musim Penghujan

Data berikutnya yang patut diwaspadai warga adalah potensi hujan di Samarinda. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Stasiun Meteorologi Kelas III Temindung, Reza Arian Noor, memberikan prediksi. Hujan berpeluang turun selama sepekan mendatang. Hal itu tidak lepas dari fakta bahwa Desember hingga Januari merupakan puncak musim penghujan. 

Musim penghujan diperkirakan baru berakhir pada Mei. Durasi curah hujan pada Febuari memang akan turun, namun kembali tinggi pada April dan Mei. Adapun puncaknya, pada pengujung pergantian musim Juni nanti.

"Seperti itu polanya," terang dia. 

Puncak musim penghujan didefinisikan sebagai bulan ketika curah hujan tinggi ditambah dengan intensitas sedang hingga lebat. Masa ini ditandai dengan curah hujan sebulan di atas 400 milimeter. Biasa terjadi pada Mei dan Juni. Sementara pada bulan lainnya, curah hujan hanya 100 hingga 300 milimeter. 

Reza mengatakan, banjir dan ketinggian debit air di bendungan Benanga tidak lepas dari curah hujan Samarinda yang berkategori sedang hingga lebat pada 11-12 Januari 2020. Dalam dua hari saja, curah hujan mencapai 85 milimeter. Fakta yang lain, Samarinda Utara atau di hulu Waduk Benanga menjadi kawasan yang paling deras diguyur hujan.  

"Persisnya di sekitar Bandara APT Pranoto," jelasnya. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar