Terkini

Pemkot Penuh Dilema Sikapi Banjir Samarinda

person access_time 1 week ago remove_red_eyeDikunjungi 4382 Kali
Pemkot Penuh Dilema Sikapi Banjir Samarinda

Foto: Ika Prida Rahmi (kaltimkece.id)

Dana darurat keluar dari kas Pemkot Samarinda. Bantuan senilai Rp 3 miliar untuk mengurangi beban para korban banjir.

Ditulis Oleh: Ika Prida Rahmi
11 Juni 2019

kaltimkece.id Banjir Samarinda meluas. Bukan lagi hanya Samarinda Utara. Sejak Senin, 10 Juni 2019, dua kecamatan lain ikut tergenang. Menerjang Samarinda Ulu dan Sungai Pinang.

Korban terdampak pun meningkat. Bahkan hingga dua kali lipat. Dari 14 ribu jiwa jadi 23 ribu. Celakanya, cakupan banjir diprediksi terus meluas.

Pendataan BPBD Samarinda hingga Senin, titik banjir terjadi di Jalan Pemuda, Jalan Remaja, Jalan Gelatik, Jalan A Yani, dan Jalan Belatuk. Selain itu Jalan Gatot Subroto, Jalan merak, Jalan Rajawali, Jalan Dr Soetomo, Simpang Mal Lembuswana. Sedangkan Perumahan Bengkuring, Perumahan Bengkuring dan Kelurahan Gunung Lingai juga masih belum surut. Ketinggian banjir bervariatif. Mulai 25 sentimeter hingga 1 meter. “Total korban terdampak banjir kurang lebih 20 ribuan,” kata Sekertaris Kota Samarinda, Sugeng Chairuddin.

Baca juga:
 

Banjir baru didapati surut di Jalan Juanda dan Antasari. Air berpindah ke Sungai Karang Mumus yang celakanya, merembet ke permukiman sekitar. Menggenang lutut sampai dada orang dewasa. “Sungai enggak muat menampung air karena air pasang,” kata Sugeng.

Pemkot Samarinda menggelontorkan dana tanggap daruruat banjir. Rp 3 miliar bersumber dari Surat Keputusan Wali Kota Samarinda tentang kondisi tanggap darurat banjir Samarinda. Status darurat berlangsung tujuh hari sejak 8 Juni 2019. “Dana digunakan khusus paket makanan, paket mandi cuci kakus, dan pembersih untuk rumah,” jelas Sugeng.

"Pemkot juga membuka dapur umum di Dinas Sosial. Makanan yang diolah siap saji kemudian dibagikan merata ke setiap korban terdampak. Sumbangan bantuan banjir juga datang dari Kodim dan Korpri Samarinda yang ikut membuka dapur umum dibagikan ke korban banjir," tambahnya.

Bukan Kegagalan Pemerintah

Pemkot Samarinda menolak isu banjir disebabkan kegagalan pemerintah. Sugeng menyebut musibah kali ini bukan seperti biasa. Bukan sekadar air hujan yang menggenangi jalan. Tapi sudah leven bencana. "Master plan penanganan banjir sudah ada dan sudah dieksekusi. Beberapa titik banjir sudah sedikit demi sedikit kami tangani," klaim Sekkot Samarinda.

Menurut Sugeng, banjir saat ini merupakan siklus 20 tahunan. Seperti banjir besar yang melanda Samarinda pada 1998. Tak heran situasi serupa juga terjadi di sejumlah daerah lain.

Secara umum, banjir disebabkan tiga faktor. Di antaranya intensitas hujan tinggi yang merata. Bahkan dari hulu Sungai Mahakam. Semakin banyak air mesti ditampung. Pasang air laut memperparah keadaan.

Celakanya, daerah resapan air di Samarinda kian kritis. Pematangan lahan hingga pertambangan merajalela. "Daerah resapan jadi enggak ada. Bahkan gunung ikut dipapas. Ini penuh dilematis. Kalau kita ributkan itu, nanti ribut semuanya,” sebut Sugeng.

“Pembukaan lahan kian hari kian masif. Tambang itu salah satu pemicu. Ditambah lagi kaplingan dan perumahan. Ini yang menjadi masalah kita semua.”

Baca juga:
 

Jalur pembuangan air didapati banyak sedimentasi. Tak sedikit yang mesti diperbaiki. Belum lagi jalur air yang terus menyusut. Dahulu, Samarinda dengan luas 718 kilometer persegi, memiliki 10 persen kawasan sungai. Saat ini tersisa 4—5 persen.

20 Ribu Bungkus Makanan dari Dapur Umum

Pemkot Samarinda dan Kodim 0901/Samarinda menyiapkan dapur umum/halaman memproduksi makanan bungkus. Diperuntukan korban banjir Kota Tepian. Kedua dapur diharapkan memproduksi lebih 20 ribu bungkus makanan per hari. D

Dapur umum dikelola Pemkot Samarinda berlokasi di samping Kantor Dinas Sosial Kota Samarinda, Jalan Dahlia. Dapur mulai dioperasikan Senin malam, 10 Juni 2019.

Sugeng berharap warga dapat membantu dan menyumbang korban banjir. Bahan makanan mentah dan cepat saji dibutuhkan untuk diolah dan didistribusikan kepada warga. Apalagi korban terdampak banjir mencapai lebih 20 ribu jiwa.

Sedangkan untuk dapur halaman yang dikoordinir Kodim 0901/Samarinda, disiapkan di markas Pembekalan Angkutan TNI AD (Bekang) VI, Samarinda di Jalan Awang Long Samarinda. Sama seperti dapur umum, Pemkot, warga yang ingin membantu, bisa mendistribusikan bahan pangan mentah. “Kami siap bantu selama banjir,” kata Komandan Kodim 0901/Samarinda, Letkol Inf M Bahrodin.

Dari situasi di lapangan, ditemukan sejumlah kendala distribusi logisitik. Banjir bisa setinggi dada orang dewasa. Dandim mengerahkan empat truk dan sejumlah perahu karet. Lengkap dengan personel TNI. Dibentuk juga posko terpadu samping Kantor Lurah Gunung Lingai. Posko dilengkapi tempat pengungsian. Termasuk fasilitas kesehatan dan pusat komunikasi. Bekerja sama dengan Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (Orari).

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Samarinda, Ifran, belum berani berspekluasi potensi banjir meluas ke daerah lain. Termasuk kapan genangan akan surut. Dari pendataan Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Samarinda, diperkirakand dua hari hujan intensitas ringan merundung Samarinda. “Cuaca saat ini tidak menentu. Kalau hujan lagi, banjir pasti meluas,” kata Ifran. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar