Peristiwa

Jejak Manusia Kalimantan dari Gambar Cadas Tertua di Dunia hingga Aksara Pertama di Nusantara

person access_time 3 months ago remove_red_eyeDikunjungi 1605 Kali
Jejak Manusia Kalimantan dari Gambar Cadas Tertua di Dunia hingga Aksara Pertama di Nusantara

Gua di gugusan karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kutai Timur (foto: arsip Dr Pindi Setiawan)

Gambar berusia 40 ribu tahun dan prasasti berusia 16 abad. Bukan anak jin apalagi monyet yang membuatnya.

Ditulis Oleh: Fel GM
23 Januari 2022

kaltimkece.id Di bagian timur laut Kalimantan tepatnya di ‘hidung’ atau ‘moncong’ pulau, hiduplah sekelompok manusia yang pandai berburu. Mereka mendiami gua-gua kapur yang terangkat dari dasar lautan sejak zaman es. Sebuah kediaman layak huni bagi manusia pada penutup zaman batu tua atau paleolitikum.

Manusia diperkirakan sudah menempati gua-gua di hutan tropis basah ini kira-kira 40 ribu tahun lampau. Selain aman dari binatang buas, sebagian gua dilengkapi fasilitas air bersih. Sumbernya dari air hujan yang masuk ke tanah. Beberapa sungai bawah tanah pun mengalir di gugusan karst yang kini bernama Sangkulirang-Mangkalihat yang membentang di Kutai Timur hingga Berau.

Walaupun masih mengandalkan perkakas yang terbuat dari batu, kelompok manusia di Kalimantan ini ternyata sudah mengenal gambar. Mereka mulai membuat citra sederhana di dinding gua. Apa yang dilihat, itulah yang mereka lukis. Gambar-gambar binatang, pohon, hingga tapak tangan, tersebar di banyak gua. Inilah yang menjadi bukti bahwa manusia berakal telah mendiami Kalimantan sejak lama. Dari tarikhnya, kelompok manusia di timur Kalimantan ini hidup 30 ribu tahun lebih dulu dari persinggungan manusia dan peradaban yang ditemukan di Sungai Nil di Mesir.

_____________________________________________________PARIWARA

Dr Pindi Setiawan adalah ilmuwan dari Institut Teknologi Bandung yang telah meneliti gambar cadas sejak 1996. Bersama sejumlah arkeolog mancanegara, Pindi memublikasikan jurnal berjudul Palaeolithic cave art in Borneo pada 2018 yang mengejutkan dunia. Di gua Lubang Jeriji Saleh, Sangkulirang-Mangkalihat, Kutai Timur, didapati sketsa rupa tertua di dunia yang pernah ditemukan. Figurnya seperti banteng liar dan diperkirakan berusia 40 ribu hingga 52 ribu tahun. Gambar itu 5.000 tahun lebih tua dari sketsa tertua selama ini yang ditemukan di Sulawesi. Sketsa Sangkulirang-Mangkalihat juga lebih dahulu dibuat dari seni pahat di gua Eropa yang berusia 35 ribu tahun. 

Penetapan usia seni batu atau rock art di Kutai Timur tidak serampangan. Para arkeolog harus mengambil sampel yang mengandung pigmen (pewarna). Sampel ini diperoleh dari lapisan batuan yang mengapit gambar. Setelah itu, sampel dikirim ke Universitas Griffith di Queensland, Australia, untuk diuji.

“Metode yang dipakai adalah peluruhan thorium dan uranium. Artinya, menilik sampai level atom,” demikian Pindi Setiawan ketika diwawancarai kaltimkece.id pada 2018. Sampel ini tidak bisa diukur dengan cara biasa yaitu metode peluruhan karbon atau penanggalan radiokarbon C-14. Metode radiokarbon hanya mampu mengukur objek yang berusia kurang dari 40 ribu tahun.

“Makanya, dipakai peluruhan thorium-uranium. Sepengetahuan saya, alatnya sangat mahal dan hanya dimiliki negara-negara maju,” sambung Pindi.

Gugusan karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kalimantan memang telah dikenal dengan berbagai gambar peninggalan prasejarah. Sampai 2014 saja, tercatat ada 2.000 seni batu yang ditemukan di dinding gua. Yang tertua adalah sketsa hewan berwarna oranye kemerahan yang serupa banteng atau hewan yang telah punah.

Penemuan ini turut menyimpulkan, manusia telah menghuni gua di timur Kalimantan selama lebih dari 30 ribu tahun. Dugaan ini datang dari usia gambar-gambar di batu yang lain. Pindi dan kolega membagi tiga fase. Yang pertama adalah fase seni batu tertua yang dimulai pada 40 ribu tahun lalu. Petunjuknya adalah usia dari gambar serupa banteng tadi. Pada fase ini, manusia juga menggambar tapak tangan yang berusia sekitar 38 ribu tahun. Ada pula gambar hewan mirip teringgiling yang berusia 32 ribu tahun. Hewan itu diperkirakan sudah punah.

Fase kedua lebih banyak didominasi gambar tapak tangan manusia. Tariknya kira-kira antara sampai 4.000 tahun lalu. Fase terakhir adalah yang termuda, diwakili gambar-gambar yang berusia lebih muda dari 4.000 tahun. Gambar-gambar tersebut lebih bervariasi seperti tombak dan perahu.

“Sebagian besar gambar (di gua-gua Sangkulirang-Mangkalihat) ditemukan di dinding gua yang terang. Hanya 2 persen gambar ditemukan di tempat gelap,” terang Pindi. Para ilmuwan berpikir, pembuat gambar telah memperhitungkan tempat dengan matang. Gambar-gambar ini bukan grafiti yang abstrak. Pernyataan ini dilandasi dengan catatan bahwa kondisi gua pada masa lalu masih sama seperti sekarang.

Penelitian ini dapat menetapkan Kalimantan sebagai rumah pengrajin seni batu tertua di dunia. Sebenarnya tidak itu saja. Sudah sejak lama, Kalimantan Timur yang belakangan ditetapkan sebagai ibu kota negara, adalah wilayah pertama di Nusantara yang menggunakan aksara.

Aksara Tertua di Nusantara

Matahari menyapu gelap dan membersihkan kabut di sekitar istana Raja Mulawarman. Pagi itu, kira-kira 1.600 tahun lampau, sang raja (Kutai) Martapura menuju sebuah lapangan. Nama tempat itu waprakeswara yang luasnya seperti lapangan sepak bola. Lapangan yang disucikan dalam agama Hindu kuno ini diperkirakan berdiri di Benua Lawas, Bukit Brubus, kini wilayah Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara (Kajian Arkeologi Sejarah Kerajaan Martapura, 2008, hlm 103).

Pada pagi yang bersejarah itu, Mulawarman sedianya mengikuti upacara keagamaan bernama vratyastoma. Kenduri besar penuh persembahan ini berjalan sesuai ajaran Weda kuno. Sang raja harus menyediakan persembahan seperti emas, bungai malai, tanah, air suci atau air susu, biji wijen, hingga lembu. Persembahan kepada dewa itu menjadi penanda raja memeluk Hindu dan masuk kasta (hlm 112).

Lima belas abad kemudian, tepatnya pada 9 September 1879, Asisten Residen Afdeeling Ooost Borneo (Departemen Kalimantan Timur) melaporkan penemuan empat prasasti yupa di hulu Sungai Mahakam. Keempat tugu dari batu andesit itu ditemukan di Muara Kaman (hlm 3). Pencarian pun terus berjalan di Muara Kaman. Pada 1940, tiga prasasti yupa ditemukan lagi (Kerajaan Martapura Dalam Literasi Sejarah Kutai 400-1635, 2021, hlm 27).

_____________________________________________________INFOGRAFIK

Ketujuh prasasti memuat aksara Pallawa yang dipakai di selatan India pada abad kelima. Lewat pemeriksaan para ilmuwan, prasasti menceritakan sebuah kerajaan di Muara Kaman yang diperkirakan telah berdiri sejak abad keempat. Raja pertamanya bernama Kundungga, diteruskan Aswawarman, dan Mulawarman. Pada masa keemasan Maharaja Mulawarman, 20 ribu ekor sapi didermakan kepada para brahmana.

Pemerintahan yang dipimpin Dinasti Mulawarman, sebagaimana tinjauan literasi terbaru sejarawan Kaltim, Muhammad Sarip, adalah Kerajaan Martapura. Kerajaan ini runtuh setelah kalah dalam peperangan melawan Kerajaan Kutai Kertanegara pada 1635. Adapun Kutai Kertanegara adalah kerajaan yang lebih muda, berdiri pada abad ke-13 di hilir Sungai Mahakam, tepatnya di Kutai lama. Setelah menaklukkan Kerajaan Martapura, nama kerajaan digabung menjadi Kutai Kertanegara Ing Martapura.

Untuk menambah wawasan tema ini, baca juga:

 

Kerajaan Mulawarman memang telah runtuh. Akan tetapi, prasasti yupa yang dibuat pada masanya masih bisa dilihat hingga kini di Museum Nasional di Jakarta. Inilah prasasti tertua di Nusantara. Artinya, yupa dari Muara Kaman adalah penanda dari akhir zaman prasejarah atau era tak mengenal aksara di Nusantara.

Arti yupa lebih dari itu. Para ahli menyimpulkan, Muara Kaman di Kalimantan Timur adalah peradaban tertua di Nusantara yang pertama kali menetapkan sistem pemerintahan. Nun jauh di pedalaman Kalimantan pada abad kelima, Muara Kaman sudah memiliki raja, kabinet menteri, hingga aturan hukum. Suatu pemerintahan yang dibentuk dan dijalankan oleh manusia, bukan anak jin apalagi monyet. (*)

Senarai Kepustakaan
  • Cahyono, M. Dwi dan Gunadi. 2007. Kerajaan Kutai Martapura: Kajian Arkeologi Sejarah. Tenggarong: Balitbangda Kabupaten Kutai.
  • M. Aubert et al. 2018. Palaeolithic cave art in Borneo. Nature, published online November 7, 2018; doi: 10.1038/s41586-018-0679-9
  • Sarip, Muhammad, 2021. Kerajaan Martapura dalam Literasi Sejarah Kutai 400-1635. Pustaka Horizon: Samarinda.
  • Sugiyanto, Bambang, 2016. Rock-Art Kalimantan Timur: Jenis Gambar dan Waktu Pembuatannya, Jurnal, Banjarmasin: Balai Arkeologi Kalimantan Selatan.
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar