Peristiwa

Ketika Kabar Proklamasi Kemerdekaan Terlambat Sampai di Kaltim

person access_time 5 months ago remove_red_eyeDikunjungi 757 Kali
Ketika Kabar Proklamasi Kemerdekaan Terlambat Sampai di Kaltim

Bung Karno, sang proklamator, ketika berorasi. (kaltimkece.id)

Kabar kemerdekaan boleh saja datang telat.
Para pemuda menyambutnya penuh semangat.

Ditulis Oleh: Fel GM
17 Agustus 2020

kaltimkece.id “Demikianlah saudara-saudara. Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada suatu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini, kita menyusun negara kita! Negara merdeka, negara Republik Indonesia! Merdeka, kekal, abadi! Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita ini.”

Ucapan berapi-api itu keluar dari mulut Insinyur Soekarno pada Jumat, hari kesembilan bulan suci Ramadan 1364 Hijriah. Pada 17 Agustus 1945, tepat hari ini pada 75 tahun silam, Soekarno yang didampingi Mohammad Hatta baru saja selesai membacakan teks proklamasi. Negara Indonesia pun lahir dari Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat, tempat naskah proklamasi dibacakan. Kabar kemerdekaan Indonesia itu mulai meluas di Jakarta dan sekitarnya. 

Pada hari yang sama, teks proklamasi diterima kepala bagian radio dari Kantor Domei --sekarang Kantor Berita Antara--, Waidan B Palenewen. Setelah tiga kali berita proklamasi disiarkan, kantor berita nasional itu disegel Jepang. Namun demikian, berkat kegigihan perjuangan para pewarta, kabar proklamasi akhirnya beredar ke penjuru Jakarta dan Pulau Jawa dalam hitungan hari (Sejarah II, 2007, hlm 93).

Namun demikian, kabar besar nan menggembirakan itu sukar disebarluaskan ke luar pulau. Pada awal kemerdekaan Indonesia, pilihan media tidaklah banyak. Hanya tersedia surat kabar, radio, atau telegram. Tidak ada telepon apatah lagi internet. Keadaan itu diperburuk dengan penguasaan Jepang terhadap fasilitas utama media-media di berbagai daerah. Meskipun telah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, tentara Jepang masih berusaha menutupi-nutupinya. Mereka tetap menyebarkan propaganda Kesemakmuran Asia Raya melalui media walaupun nyatanya telah babak-belur dihajar pasukan Sekutu.

Kabar Proklamasi di Tenggarong

Jepang berusaha menutupi kabar kemerdekaan Indonesia dengan merampas radio milik rakyat di Tenggarong. Tentara negeri matahari terbit itu ingin rakyat tetap takut dan tunduk kepada mereka. Upaya itu berhasil dijalankan selama sebulan.

Baca juga: Lautan Api Balikpapan, Neraka bagi Tentara Jepang

Sampai akhirnya radio milik warga Tenggarong berhasil dibunyikan. Adalah Kasan, montir listrik asal Surabaya yang tinggal di Tenggarong sejak zaman Hindia Belanda, si empunya radio tersebut. Dia gemar membunyikan berita-berita perjuangan sejak zaman Jepang. Ketika radio dinyalakan di kediamannya, para pemuda berkerumun mendengarkan berita proklamasi bangsa. Rumah Kasan di Tenggarong pun menjadi salah satu lokasi gerakan perjuangan. Di rumahnya pula, HUT pertama dan kedua kemerdekaan RI diperingati (Dari Jaitan Layar sampai Tepian Pandan, Sejarah Tujuh Abad Kesultanan Kutai Kertanegara, 2018, hlm 137).

Dari perkakas elektronik milik Kasan, warga mendengar berbagai stasiun radio yang terus-menerus menyajikan maklumat kemerdekaan Indonesia. Di tengah-tengah siaran, terselip kabar pertempuran di Pulau Jawa dan sejumlah daerah. Pejuang kemerdekaan tengah berusaha mengusir Belanda yang kembali datang dengan membonceng Sekutu. Informasi perebutan senjata oleh para pejuang turut membakar semangat pemuda-pemuda Tenggarong. Beberapa hari setelah Idulfitri 1364 Hijriah atau September 1945, mereka mengadakan rapat rahasia di ibu kota Kesultanan Kutai Kartanegara.

Dokter Suwondo adalah orang yang ikut memelopori gerakan perjuangan di Tenggarong. Dia seorang petugas kesehatan yang pernah bertugas di Long Iram, kini wilayah Kutai Barat. Bersamanya, sembilan pemuda bertemu diam-diam di rumah Muhammad Yusuf Rusdi di kampung Loa Ipuh, Tenggarong. 

Majelis kecil itu memutuskan membentuk badan perjuangan bernama Gerak, kependekan dari Gerakan Rakyat Kutai. Begitu tentara Jepang di Tenggarong dilucuti pasukan Sekutu, Gerak mengobarkan semangat memasang bendera merah putih di rumah-rumah penduduk. Mengetahui hal tersebut, Belanda yang kembali menancapkan kuku kekuasaannya mengambil langkah. Dokter Suwondo, ayah dari tokoh nasional Siswono Yudo Husodo, dipindahtugaskan ke Sulawesi. 

Kabar Proklamasi di Samarinda

Berita proklamasi baru tiba di Samarinda pada 19 September 1945. Kabar itu diterima sebulan lebih dua hari setelah proklamasi dibacakan di Jakarta. Tentara Australia yang bergabung dalam pasukan Sekutu membawa kabar tersebut ke Kota Tepian. Kedatangan pasukan Australia di hilir Sungai Mahakam juga untuk melucuti tentara Jepang. Dalam pelucutan itu, radio-radio yang dirampas Jepang dikembalikan kepada masyarakat.

Baca juga: Zaman Jepang di Balikpapan, Neraka bagi Buruh Paksa

Sama seperti di Tenggarong, masyarakat Samarinda juga menerima informasi kembalinya penjajah Belanda ke bumi pertiwi. Kabar memang tiba dengan telat. Tetapi tidak dengan padamnya semangat. Informasi itu membuat kaum pemuda dan tokoh masyarakat Samarinda bergerak. Sederet nama seperti Oemar Dachlan, Ali Badrun Arieph, dan Anwar Barack, menyiapkan rencana penyambutan kemerdekaan Indonesia di Samarinda. Mereka menunjuk Dokter Soewadji Prawiroharjo selaku kepala rumah sakit umum sebagai pemimpin P3KRI, Panitia Persiapan Penyambutan Kemerdekaan Republik Indonesia (Samarinda Tempo Doeloe: Sejarah Lokal 1200-1999, 2017, hlm 126). 

Kepada seluruh kampung di Samarinda, P3KRI meminta mengirimkan perwakilan untuk masuk kepanitiaan. Mereka merancang aksi utama pemasangan bendera merah putih di banyak tempat. Gerakan itu segera memancing amarah Belanda. Sama seperti pemimpin gerakan di Tenggarong, Dokter Soewadji dihukum dengan dipindahtugaskan ke Morotai, kini Provinsi Maluku Utara. 

Tentu saja, usaha Belanda tidak mampu memadamkan api perjuangan para pemuda Kaltim. Hari-hari selanjutnya, gerakan mempertahankan kemerdekaan semakin berkobar. Kaum Republiken di Kaltim memberi perlawanan sengit sampai Belanda “takluk” dalam Konferensi Meja Bundar pada 2 November 1949. Indonesia telah merdeka, dan kemerdekaan itu berhasil dipertahankan. Termasuk di Kaltim. (*)

Artikel ini telah diterbitkan dengan judul yang sama pada 17 Agustus 2019.

Senarai Kepustakaan

  • Kurnia, Anwar, dan Suryana, Moh, 2007. Sejarah II, Jakarta: Penerbit Yudhistira.
  • Sarip, Muhammad, 2017. Samarinda Tempo Doeloe, Sejarah Lokal 1200-1999. Samarinda: RV Pustaka Horizon.
  • Sarip, Muhammad, 2018. Dari Jaitan Layar sampai Tepian Pandan, Sejarah Tujuh Abad Kerajaan Kutai Kartanegara, Samarinda: RV Pustaka Horizon.

 

Ikuti berita-berita berkualitas dari kaltimkece.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar