Kesehatan

Pamer Alat Kelamin, dari Zaman Kuno hingga Era Internet

person access_time 11 months ago remove_red_eyeDikunjungi 4216 Kali
Pamer Alat Kelamin, dari Zaman Kuno hingga Era Internet

Pura-pura tidak melihat atau segera pergi adalah cara menghadapi ekshibisionis. (sumber: pitchbull.deviantart.com)

Lelaki yang memamerkan alat vital di Samarinda adalah seorang ekshibisionis. Penderita penyimpangan seksual yang sudah ada sejak zaman kuno.

Ditulis Oleh: Fel GM
20 Mei 2018

kaltimkece.id Penduduk desa segera menyesaki tepi Sungai Nil begitu mendengar keriuhan yang luar biasa. Sumber suara semarak itu rupanya dari rombongan perahu yang datang dalam jumlah besar. Para penumpang kapal, lelaki dan perempuan, berteriak tanpa henti sambil memainkan alat musik. 

Pawai kapal adalah bagian dari Festival Artamis, sebuah bentuk pemujaan para dewa pada abad kelima di Mesir. Kapal-kapal berparade menuju kota tua bernama Bubastis. Selama menyusuri bengawan terpanjang di dunia itu, peserta pawai menghampiri desa-desa yang mereka lewati.

Pada mulanya, kapal mendekati tepian sungai. Penumpang laki-laki meniup alat musik seperti suling sementara para perempuan bernyanyi sambil bertepuk tangan. Setelah kapal benar-benar rapat dengan daratan, para perempuan akan berteriak. Mereka melontarkan kata-kata tak senonoh yang menyinggung penduduk desa. 

Kelompok perempuan yang berteriak dan menari lantas menyingkap pakaian sehingga telanjang. Peristiwa memamerkan bagian tubuh yang vital di depan publik itu disaksikan dan dicatat sejarawan Yunani, Herodotus, dalam bukunya berjudul History (The Pleasure's All Mine: A History of Perverse Sex, 2013).

Memamerkan aurat, sebagaimana festival Mesir kuno, disebut ekshibisionisme. Aksi pamer alat vital seperti demikian sudah beberapa kali terjadi di Kaltim. Peristiwa terbaru pada Jumat, 18 Mei 2018, tepat hari kedua puasa Ramadan. Seorang lelaki bermasturbasi dari sepeda motor, diduga di Jalan Juanda, Samarinda. Pelaku dengan wajah yang tersembunyi helm terekam kamera sehingga mengundang perhatian luas warga kota. 

Baca juga: Sejarah yang Tergusur Taman Samarendah

Bukan hanya lelaki, perempuan tercatat pernah menjadi pelaku ekshibisionisme. Seorang mahasiswi berinisial KK, dikenali lewat tato di dadanya, berpose di sejumlah ruang publik termasuk Stadion Madya Sempaja. Hari ini, tepat dua tahun lalu, KK menyerahkan diri kepada kepolisian Samarinda.

Tentang Ekshibisionisme 

Ekshibisionisme didefinisikan sebagai dorongan yang tidak terkendali untuk menunjukkan bagian genital kepada orang asing (Forensic and Medico-legal Aspects of Sexual Crimes and Unusual Sexual Practices, 2009). Asosiasi Psikiater Amerika memasukkan ekshibisionisme ke Manual Diagnosis dan Statistik Gangguan Mental (DSM) IV sebagai penyimpangan perilaku seksual. Laki-laki dilaporkan paling banyak menjadi ekshibisionis ketimbang perempuan.

Mengapa sampai ada orang yang gemar memamerkan alat vital? Sebagian ahli menyimpulkan bahwa perilaku tersebut disebabkan beberapa hal. Dimulai gangguan kepribadian antisosial, penyalahgunaan alkohol, hingga kecenderungan pedofilia. Faktor lain adalah pelecehan seksual dan emosional pada masa kecil. 

Ekshibisionisme juga dipicu faktor lingkungan. Dalam beberapa kasus, ekshibisionis tumbuh di tengah keluarga yang tak menghargai privasi. Orangtua, sebagai contoh, membiarkan tubuhnya yang tak berpakaian dilihat anak-anak. Beberapa orangtua bahkan mengajak anak-anak menonton film porno. Keadaan itu memicu kebingungan anak-anak memahami batasan fisik yang boleh dilihat (Sexual Deviance: Theory, Assessment, and Treatment, 2008).

Baca juga: Yang Terjadi di Tiga Detik Mematikan saat Atraksi Maut

Sebagai sebuah penyimpangan, ekshibisionisme dibagi menurut perilaku. Penulis Forensic and Medico-legal Aspects of Sexual Crimes and Unusual Sexual Practices, Anil Aggrawal, membagi ekshibisionisme dalam lima jenis. Pertama adalah anasyrma yaitu mengangkat rok namun tidak bertujuan memamerkan alat kelamin. Anasyrma lebih berhubungan dengan mitologi Yunani kuno. Mirip dengan anasyrma, mooning adalah jenis kedua yakni memperlihatkan bokong. Mooning cenderung kepada ejekan atau candaan. 

Candaulisme adalah bentuk ketiga, berupa menelanjangi pasangan di muka umum. Mereka yang gemar membagikan foto saru pasangannya termasuk tukang pamer jenis ini. Bentuk selanjutnya ialah nudism atau telanjang di tempat umum. Kemudian streaking atau berlari di tempat umum tanpa pakaian. Bentuk ekshibisionisme yang terakhir adalah zoophilic atau menunjukkan alat vital di depan binatang.

Ekshibisionisme juga dibagi menjadi empat kelas. Pertama adalah fantasi. Di kelas ini, ekshibisionis hanya berfantasi memamerkan alat kelamin kepada orang asing. Mereka terlalu takut menjalankan fantasi itu sehingga beberapa beralih ke ekshibisionisme zoophilic

Kelas kedua adalah ekshibisionis murni. Mereka puas saat memamerkan alat kelamin dari kejauhan sambil masturbasi. Dalam tahap ini, ekshibisionis tidak menyentuh atau menyakiti orang lain. Lelaki yang merancap di Jalan Juanda, Samarinda, tiga hari lalu, termasuk kelas ini. Demikian halnya mereka yang memamerkan alat kelamin melalui saluran internet.

Ekshibisionis kriminal adalah kelas ketiga dan terbanyak. Mereka terlibat dalam kejahatan seksual yang lain terutama pedofilia dan penganiayaan anak. Adapun kelas terakhir, adalah eksklusif. Klasifikasi ini adalah orang-orang yang sudah sangat tergila-gila dengan ekshibisionisme. Buat mereka, memamerkan tubuh adalah satu-satunya saluran kepuasan seksual.

Cara Menghadapi

Aksi ekshibisionisme berhubungan erat dengan motivasi pelaku. Dalam jurnal Psychopathy: Assessment and Association with Criminal Conduct (1997), psikolog forensik Stephen Hart mengungkap motif tersebut. Pelaku sebenarnya ingin memberi kesan kepada orang-orang. Tujuan mereka mirip dengan kita ketika mengenakan pakaian yang bagus untuk menarik perhatian orang lain. Bagi ekshibisionis, “berpakaian modis” itu adalah tidak berpakaian. 

Namun demikian, harus diingat bahwa para pemamer aurat memiliki pola gairah seksual yang kuat. “Mereka mendapatkan kepuasan lebih banyak sebagai ekshibisionis alih-alih berhubungan seks dengan orang lain,” tulis Hart. 

Dari pendapat itu, lanjutnya, dapat disimpulkan bahwa motivasi ekshibisionis adalah mencari perhatian dengan mengejutkan orang lain. Beberapa pelaku juga berharap korban mereka terangsang secara seksual. Itu sebabnya, Hart mengingatkan, penderita ekshibisionisme cenderung berbahaya. Mereka dapat terlibat dalam perilaku buruk hingga kekerasan seksual. 

Jika seorang perempuan berada dalam posisi korban ekshibisionisme, Hart menyarankan untuk meninggalkan situasi secepat dan setenang mungkin. “Jika ingin bereaksi, berikan pandangan tajam, ekspresi mendengus, atau rasa jijik,” terangnya. Hal itu akan melenyapkan motivasi pelaku yang sedang mencari perhatian. “Selanjutnya, hubungi pihak berwajib secepat mungkin,” terangnya.

Perawatan Penderita

Sebagai sebuah penyimpangan, ekshibisionis kebanyakan tidak sadar dengan yang dideritanya. Mereka juga tidak menerima perawatan sampai ketahuan atau tertangkap. Jika kerabat kita diketahui menderita hal tersebut, langkah yang paling baik adalah menjalani perawatan sedini mungkin. 

Baca juga: Ketika Islam Tiba di Bumi Etam, Perahu Aneh dan Masalah Daging Babi

Menurut artikel berjudul Exhibitionism (2018) yang dilansir psychologytoday, penderita ekshibisionisme dapat melewati psikoterapi dan mengonsumsi obat-obatan. Selain menurunkan hasrat seksual, beberapa obat dipakai untuk mengurangi depresi dan gangguan suasana hati.

Penelitian menunjukkan bahwa hasrat seksual dapat dikendalikan lewat terapi perilaku. Terapi dapat membantu mengidentifikasi pemicu dorongan sehingga bisa dikelola dengan cara yang lebih sehat. Pendekatan psikoterapi yang lain adalah pelatihan relaksasi, empati, serta keterampilan mengubah pikiran yang mengarah kepada ekshibisionisme. (*)

Senarai Kepustakaan
  • Peakman, Julie, 2013. The Pleasure's All Mine: A History of Perverse Sex, China: Toppan Printing. 
  • Aggrawal, Anil, 2009. Forensic and Medico-legal Aspects of Sexual Crimes and Unusual Sexual Practices, USA: CRC Press.
  • Laws, D Richard, dan O’Donohue, William, 2008. Sexual Deviance: Theory, Assessment, and Treatment, New York: The Guildford Press.
  • Hart, Stephen, 1997. Psychopathy: Assessment and Association with Criminal Conduct, Jurnal.
  • Psychologytoday, 2018. Exhibitionism, website. 
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar